Beberapa hari lalu baru saja dunia pendidikan indonesia mengukir prasasti pada sendi generasi. SNMPTN yang merupakan tahapan seleksi menuju perguruan tinggi negri telah dilaksanakan, puluhan bahkan ratusan ribu siswa yang ‘berjudi’ untuk masa depannya khusus di sulawesi selatan mengikuti tes akademik tersebut. keringat saat melingkari jawaban dan ekskresi otak berfikir serta hentakan jantung yang terpacu oleh soal ujian tak berarti apa-apa untuk sebuah hasil cantuman nomor test pada saat pengumuman nanti. 12.30, universitas hasanuddin terlihat ramai oleh kemacetan jalan yang tak biasanya. Kala itu lain, wajah gusar para calon mahasiswa baru yang baru saja mengikuti tes SNMPTN diperlihatkan sepanjang jalan kampus ketika itu. Entah karena lapar, jalanan macet, tarif parkir dadakan yang mahal, atau mungkin soal ujian yang ‘ekstrim’.
Disebuah sudut halaman fakultas Teknik Unhas ketika saya menjemput seseorang yang juga ikut mengadu kemampuan akademiknya, sembari melepas tawa setelah bertemu ia memperlihatkan soal-soal ujiannya. Ternyata lembar test kemampuan potensi akademik dan ilmu sosial. Deretan soalnya tertulis tebal dan rapi namun sangat tak enak dipandang mata. Pertanyaan-pertanyaan moderat tersebut tak lagi masuk akal bagi ku setelah terakhir kali mencoba mengahadapinya 4 tahun lalu, pada saat saya juga ikut test SNMPTN (SPMB- ketika itu,) tahun 2007 lalu setelah berjuang mati-matian melulusi Ujian Akhir Nasional (UAN) tapi ternyata UAN sendiri tidak menyentuh esensi dari suatu evaluasi pendidikan, melainkan hanya menjadi suatu ritual tahunan yang mesti dilalui oleh siswa baik di jenjang dasar ataupun menengah. UAN bahkan juga menjadi salah satu syarat yang menentukan kelulusan yang sebenarnya tidak sah karena hanya berdasarkan nilai tanpa melihat proses, ditambah lagi kemampuan tiap siswa di tiap sekolah daerah-daerah berbeda.
Saya berkata demikian karena jujur, secara kemauan dan potensi, saya belum merasa bisa memenuhi esensi pendidikan menengah tersebut.
Siluet itu makin silau oleh pertanyaan saya sendiri, “relevan kah suatu kemampuan, kemauan dan rejeki?”. ku benturkan ke 3 aspek dominasi itu, antara kemampuan menjadi bibit unggul pelajar indonesia, kemauan menjadi bibit unggul pelajar indonesia dan rejeki menjadi mahasiswa di PTN. Sudahlah, tentu saja faktor rejeki/peruntungan yang mendominasi.
Berbicara dunia Pendidikan bagi saya sesuatu yang menarik, luas dan bebas. Bukan kritik, saya tidak suka mengkritik. Bagaimana kalau beropini?!. Mungkin akan memancing lahir opini lain, mungkin memancing lahir orasi, tuntutan, mungkin juga ide revolusi pendidikan walau akan terkesan hipokrit. Mengapa pendidikan perlu di revolusi? Sekali lagi, saya tak suka mengkritik..
saya jadi teringat sebuah artikel tentang itu, tentang proses atau tahapan olah pendidikan. isinya kira kira seputar opini dan kritik tentang pendidikan di indonesia. Saya sering membayangkan hidup di sebuah dunia di mana setiap penghuninya dapat dengan bebas dan terbuka saling berbagi cerita dan pengalaman, membuka dirinya bagi kehadiran dan keberadaan pihak lain. Menerima keberadaan orang lain apa adanya, dan saling menjunjung kedaulatan serta kemerdekaan pihak lain. Apakah itu semua dapat kita temukan dalam dunia pendidikan?
Sayangnya, kita tak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa banyak orang yang (baik disadari maupun tidak) lebih senang memakan buah yang lebih dulu dikunyahkan orang lain yang dianggap lebih tahu, lebih bijaksana, lebih pengalaman, lebih pintar... .
Saya sendiri sering mengalami bagaimana murid-murid merasa lebih "aman" bila tahu apa pendapat gurunya tentang sesuatu hal, dan akhirnya menjadikan pendapat gurunya tersebut sebagai pendapatnya juga. Lalu ketika saatnya ujian, jawaban yang diberikan murid adalah jawaban yang sama persis dengan pendapat sang guru, meskipun soal di kertas ujian sangat jelas terbaca: "Uraikan pendapatmu tentang..." Celakanya lagi, sang guru tampak senang dan memberi nilai yang baik, atas jawaban si murid, sebab dianggap muridnya sudah dapat memberikan jawaban dan pendapat yang baik dan tepat, sama seperti pendapatnya.
Jika hal ini cenderung (atau bahkan mungkin sudah) menjadi kenyataan dalam proses pendidikan kita, maka tampaknya kita pantas mengurut dada bila pendidikan tidak lagi dipandang sebagai upaya memanusiakan manusia, melainkan mem-beo-kan manusia. Moga-moga tidak!
Marilah kita belajar dari Sang Maha-Guru Agung, Allah kita. Allah memberikan hak dan kesempatan kepada Adam untuk menamai ciptaan yang lain. Kisah ini bukan semata-mata kisah saja, terlebih bila kita mengingat bahwa manusia itu dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Dalam kisah tersebut kita melihat betapa tingginya harkat dan martabat manusia dan betapa luhurnya fitrah manusia.
Pengakuan bahwa Allah sendiri memberi manusia kebebasan untuk menamai ciptaan yang lain, menunjukkan bahwa fitrah, harkat dan martabat manusia yang agung itu dimungkinkan dan ditetapkan sejak penciptaan manusia oleh Allah sendiri. Tindakan menghargai fitrah, harkat dan martabat manusia merupakan tindakan ilahi.
Tindakan Allah tersebut memberikan kepada kita suatu kerangka dasar bagi pengakuan atas kebebasan dan kedaulatan manusia, yang sejak awalnya telah diberi kebebasan oleh Allah untuk menamai bahkan menanggungjawabi perbuatannya. Kebebasan itu ternyata pula diletakkan dalam relasi yang erat dengan ciptaan yang lain (yaitu alam) dalam harmoni cinta.
Tetapi dalam kisah selanjutnya kita juga melihat bahwa kebebasan dan kedaulatan itu dibayangi oleh krisis. Krisis yang mengancam dan mampu menghancurkan manakala kebebasan dan kedaulatan tidak lagi diikuti oleh tanggung jawab dan kesadaran akan hakikat keberadaan diri. Adam dan Hawa melepas tanggung jawab untuk taat kepada batas-batas yang Allah tetapkan. Keinginan untuk menjadi seperti Allah, yang juga berarti keinginan untuk berkuasa dan menguasai pihak lain, mengakibatkan Adam dan Hawa lupa akan keberadaan diri mereka. Selanjutnya kita tahu apa yang terjadi.
Baik Adam maupun Hawa tidak mampu bersikap kritis dan waspada atas apa yang dinyatakan oleh ular. Kebebasan dan kedaulatan mereka tidak disertai oleh sikap kritis dan waspada. Kritis dan waspada terhadap krisis-krisis yang mungkin ada di dalam kebebasan dan kedaulatan itu sendiri. Ketika diperhadapkan pada pilihan yang menggiurkan, segala pertimbangan hanya memusat pada diri mereka sendiri. Saat itu sebenarnya harmoni dengan alam, terlebih dengan Pencipta tidak lagi masuk dalam pertimbangan. Harmoni yang indah tersebut dikalahkan oleh ego mereka.
Kita melihat bahwa di satu sisi kebebasan dan kedaulatan merupakan milik yang berharga bagi manusia sebab hal itu merupakan bagian dari fitrah, harkat dan martabat manusia. Namun di sisi lain kita juga tak dapat melupakan tanggung jawab dan kesadaran akan keberadaan diri kita.
Dikaitkan dengan pendidikan, maka kita harus senantiasa mengingat bahwa fitrah, harkat dan martabat manusia menjadi kerangka dasar pendidikan. Itu berarti, pendidikan semestinya menjunjung tinggi kebebasan dan kedaulatan tiap individu yang terlibat di dalamnya, terlebih dalam diri murid.
Sebagaimana telah dikatakan di atas, bahwa tindakan penghargaan akan kebebasan dan kedaulatan merupakan tindakan ilahi. Namun kebebasan dan kedaulatan tersebut bukanlah kebebasan dan kedaulatan yang memusat pada diri sendiri. Kebebasan dan kedaulatan pada akhirnya harus bermuara pada kesadaran akan relasi manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Pencipta-Nya. Kesadaran ini diarahkan dalam harmoni dan semangat kebersamaan.
Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi suatu upaya untuk membebaskan manusia dari pemusatan segala sesuatu kepada diri sendiri dan mengarahkan kebebasan serta kedaulatan manusia bagi perjuangan untuk mengupayakan kebebasan dan kedaulatan sesamanya. Pendidikan yang membebaskan berarti juga upaya untuk memungkinkan berkembangnya sikap kritis, terlebih kritis terhadap diri sendiri (yang ditandai dengan berkembangnya otokritik dan introspeksi). Hal ini dilakukan dalam kesadaran akan keterkaitan diri dengan sesama dan dunianya serta terhadap Penciptanya.
Mungkinkah dan kapankah upaya itu dapat kita lihat hasilnya? Menurut saya sangat mungkin. Kapan? Ketika murid-murid sudah dapat berkata: "Pak Guru, Bu Guru, biarkan saya mengunyah buah saya sendiri...!"
Tebahasakan rapi memang, seakan opini ini muncul secara kritis bukan berarti dari personal yang idealis. Saya sendiri memiliki track-record yang buruk pada rapor akademik kuliah. Lantas mengapa saya berani beropini sekencang ini? sekali lagi, karena saya sedang ber-opini, tak sedang mengkritik!
Senin, 20 Juni 2011
tengah malam di Makassar..
Sudah sekitar pukul 11 malam, ku tak punya jam tapi setidaknya saya sudah hafal betul malam dengan kronologisnya, konstelasi bintangnya, atau lintasan bulannya. Ya, tepatnya pada malam dimana ku menyaksikan sebuah pemandangan yang begitu naïf tapi cukup logis, ketika Makassar berada pada klimaks glamournya. Membuat ku kini merasa tenggelam ke dalam lumpur pasir, makin lama makin kalap, makin terpikir semakin membuat ku ingin menjadi orang yang tak tahu apa-apa saja. Kota metropolitan yang menyuguhkan begitu banyak hiburan instan berupa sinergi materi dan kepuasan, profesi dan cita-cita, nasib dan takdir, cinta dan nafsu, wanita dan pria. Bongkahan dada wanita penjajak tubuh semakin aktraktif ketika mereka berjalan, pria-pria muda yang sedang kepanasan menatapnya sekilas namun dengan cermat memberi nilai atas kadar libidonya. Mereka bernegosiasi, menggombal dan menghilang setelah seorang wanita dengan umur yang lebih tua member isyarat ‘deal’. Pikiranku membuas dan menjadi liar menjawab Tanya ku, “kemana mereka pergi?”.
Hujan, tempat itu tetap ramai. Semakin larut semakin panas pula nampaknya..
Sial, makin deras saja tumpahan air hujan kala itu. Saya memilih berteduh disebuah emperan press ban yang tentu saja kebetulan ada di ujung daerah lokalisasi tersebut, daripada melanjutkan perjalanan pulang ke Maros sehabis menyoraki tim sepak bola kebanggaan ku PSM berlaga yang telah menghibur ku malam tersebut. Ada sebuah deskripsi di tempat ku numpang kering saat itu. Pemandangan yang membuat seorang laki-laki normal dan parau seperti saya seketika grogi, kaget, tercengang, penasaran dan malu. Hujan semakin tebal, kuas butiran air yang seharusnya lembut menjadi kasar. Ya, saya memilih bertedus saja dulu.
Ditemani segelas kopi yang ku pesan di emperan multi emperan tersebut dan beberapa batang rokok, sesekali ku mencuri pandangan ke arah timur dimana mereka yang sedang ‘berdagang’ sibuk mencari pelanggan. Pandangan ku beralih ke sebuah momen, sebuah potret,sebuah gejala hedonis sebenarnya mungkin lebih tepatnya. Seorang wanita dipapah oleh prianya, wanita muda yang mulus putih, masih terlalu muda. Mungkin ia mabuk, jalannya sempoyongan, kepalanya rapat di pundak seorang pria tegap. ku pastikan mereka ialah pasangan kencan, namun Sama sekali terlihat tidak romantis. si wanita pasti kedinginan, pakaiannya minim menampakkan garis bokong dan tiap sudut body sintalnya. Mereka baru saja keluar dari klub malam di wilayah itu, musik ajep-ajep terdengar jelas di tempat ku bernaung sekitar 500 meter jaraknya.
Ada sebuah momen, ketika wanita malang tersebut dipapah masuk ke mobil, sekejap 3 bocah dekil melintas di balik adegan wanita mabuk dan pria tegap tadi. Dengan kantongan plastik yang mereka pikul, saling kejar-kejaran bermain di bawah rintihan hujan di larutnya malam. Seorang gadis mungil mengejar 2 bocah ceking lainnya sesekali mereka saling memaki. Begitu kontras dengan gradasi warna dunia mereka, antara dunia 2 orang pasangan pemabuk dengan 3 orang bocah gelandangan. Miris. ketika realitas itu muncul secara visual dan terukir dalam mendeklarasikan indikator panggung sosialnya masing-masing. Sekalipun bisu, malam lebih banyak tahu tentang bintang. Sekalipun tabu, fenomena urban seperti ini bukanlah sebuah pilu namun dianggap lugu.
Melihat momen tersebut, membuat ku yang sedang kedinginan merasa kosong, marah. Entah marah kepada siapa. Ku sampaikan kesal ku dengan sunggingan senyum, nadi ku me-merah. Bagaikan menyaksikan sebuah siaran tv di channel yang berbeda, menggambar desain kota di kanvas kapas, mengolah kayu menjadi arang. Sekali lagi ku tertunduk dengan sunggingan senyum yang lebih kaku. Ku sering berbicara tentang idealisme, berpenasaran dengan metafisika, menyibukkan diri dengan angka-angka, selalu semangat untuk berdialektika, mengaku sebagai intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi mencanangkan kebenaran, berfalsafah dan punya cinta. Sekarang ku merasa begitu munafik, penipu dan pecundang. Menghadapi pemandangan sebegitu singkat saja sudah tersungkur malu! Hanya bisa menunjukkan sikap tak tahu atau tak mau tahu. Ego ku bermain, nalar ku mengambang di atas lintas kehidupan mereka. Cukup arogan karena menjastis dunia mereka begitu payah dan malang tanpa memikirkan bagaimana wujud mereka besok ketika datang hari.
Kini ku harus malu, tentu saja malu. Tak pernah terpikir kedua orang tua ku menjadikan ku sehebat ini yang begitu beruntung mengenyam pendidikan dan kehidupan layak, menjadikan ku setenang ini yang tak peka akan foya-foya. Selama ini ku terus menganyam simpul jerat cita-cita ku sendiri, menafkahi batin ini dengan ibadah serta memposisikan diri sebagai hamba. Begitu manusianya saya ternyata yang selalu kecewa atas kompresi takdir tiap jiwa padahal ku sangat meyakini qada’ dan qadar. Ku telusuri jalan hidup ku yang ternyata tiap orang punya rute hidup tersendiri, sekiranya ku tak tahu jika ternyata goresan di lintasan cerita hari-hari mereka begitu rumit, menanjak dan berjurang terjal di tiap sisi. Tak usah bercerita tentang wacana global lagi, momen tadi adalah tragedi. Tak usah mengkaji system ekonomi lagi, momen tadi adalah halusinasi iba hati..
Semoga saja ke-tiga bocah gelandangan tadi bukan keluarga atau kerabat ku, semoga saja wanita mabuk dan pria pemapah itu bukan orang-orang terdekat ku..
Terima kasih malam, semua wanita jalang, pria mesum dan bocah ingusan. Kalian membawa ku pulang untuk berdoa lagi..
-050511-
Hujan, tempat itu tetap ramai. Semakin larut semakin panas pula nampaknya..
Sial, makin deras saja tumpahan air hujan kala itu. Saya memilih berteduh disebuah emperan press ban yang tentu saja kebetulan ada di ujung daerah lokalisasi tersebut, daripada melanjutkan perjalanan pulang ke Maros sehabis menyoraki tim sepak bola kebanggaan ku PSM berlaga yang telah menghibur ku malam tersebut. Ada sebuah deskripsi di tempat ku numpang kering saat itu. Pemandangan yang membuat seorang laki-laki normal dan parau seperti saya seketika grogi, kaget, tercengang, penasaran dan malu. Hujan semakin tebal, kuas butiran air yang seharusnya lembut menjadi kasar. Ya, saya memilih bertedus saja dulu.
Ditemani segelas kopi yang ku pesan di emperan multi emperan tersebut dan beberapa batang rokok, sesekali ku mencuri pandangan ke arah timur dimana mereka yang sedang ‘berdagang’ sibuk mencari pelanggan. Pandangan ku beralih ke sebuah momen, sebuah potret,sebuah gejala hedonis sebenarnya mungkin lebih tepatnya. Seorang wanita dipapah oleh prianya, wanita muda yang mulus putih, masih terlalu muda. Mungkin ia mabuk, jalannya sempoyongan, kepalanya rapat di pundak seorang pria tegap. ku pastikan mereka ialah pasangan kencan, namun Sama sekali terlihat tidak romantis. si wanita pasti kedinginan, pakaiannya minim menampakkan garis bokong dan tiap sudut body sintalnya. Mereka baru saja keluar dari klub malam di wilayah itu, musik ajep-ajep terdengar jelas di tempat ku bernaung sekitar 500 meter jaraknya.
Ada sebuah momen, ketika wanita malang tersebut dipapah masuk ke mobil, sekejap 3 bocah dekil melintas di balik adegan wanita mabuk dan pria tegap tadi. Dengan kantongan plastik yang mereka pikul, saling kejar-kejaran bermain di bawah rintihan hujan di larutnya malam. Seorang gadis mungil mengejar 2 bocah ceking lainnya sesekali mereka saling memaki. Begitu kontras dengan gradasi warna dunia mereka, antara dunia 2 orang pasangan pemabuk dengan 3 orang bocah gelandangan. Miris. ketika realitas itu muncul secara visual dan terukir dalam mendeklarasikan indikator panggung sosialnya masing-masing. Sekalipun bisu, malam lebih banyak tahu tentang bintang. Sekalipun tabu, fenomena urban seperti ini bukanlah sebuah pilu namun dianggap lugu.
Melihat momen tersebut, membuat ku yang sedang kedinginan merasa kosong, marah. Entah marah kepada siapa. Ku sampaikan kesal ku dengan sunggingan senyum, nadi ku me-merah. Bagaikan menyaksikan sebuah siaran tv di channel yang berbeda, menggambar desain kota di kanvas kapas, mengolah kayu menjadi arang. Sekali lagi ku tertunduk dengan sunggingan senyum yang lebih kaku. Ku sering berbicara tentang idealisme, berpenasaran dengan metafisika, menyibukkan diri dengan angka-angka, selalu semangat untuk berdialektika, mengaku sebagai intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi mencanangkan kebenaran, berfalsafah dan punya cinta. Sekarang ku merasa begitu munafik, penipu dan pecundang. Menghadapi pemandangan sebegitu singkat saja sudah tersungkur malu! Hanya bisa menunjukkan sikap tak tahu atau tak mau tahu. Ego ku bermain, nalar ku mengambang di atas lintas kehidupan mereka. Cukup arogan karena menjastis dunia mereka begitu payah dan malang tanpa memikirkan bagaimana wujud mereka besok ketika datang hari.
Kini ku harus malu, tentu saja malu. Tak pernah terpikir kedua orang tua ku menjadikan ku sehebat ini yang begitu beruntung mengenyam pendidikan dan kehidupan layak, menjadikan ku setenang ini yang tak peka akan foya-foya. Selama ini ku terus menganyam simpul jerat cita-cita ku sendiri, menafkahi batin ini dengan ibadah serta memposisikan diri sebagai hamba. Begitu manusianya saya ternyata yang selalu kecewa atas kompresi takdir tiap jiwa padahal ku sangat meyakini qada’ dan qadar. Ku telusuri jalan hidup ku yang ternyata tiap orang punya rute hidup tersendiri, sekiranya ku tak tahu jika ternyata goresan di lintasan cerita hari-hari mereka begitu rumit, menanjak dan berjurang terjal di tiap sisi. Tak usah bercerita tentang wacana global lagi, momen tadi adalah tragedi. Tak usah mengkaji system ekonomi lagi, momen tadi adalah halusinasi iba hati..
Semoga saja ke-tiga bocah gelandangan tadi bukan keluarga atau kerabat ku, semoga saja wanita mabuk dan pria pemapah itu bukan orang-orang terdekat ku..
Terima kasih malam, semua wanita jalang, pria mesum dan bocah ingusan. Kalian membawa ku pulang untuk berdoa lagi..
-050511-
unexplored monday..
senin, pagi, hujan! hari ini benar2 tak punya sopan santun, senin pagi yang dinanti dengan gusarnya hujan mengguyur menerjang tanah kesetanan tak layaknya lembut embun dan kabut fajar. Tak nampak lantang suara penjual nasi kuning amatir oleh seorang bocah kerempeng yang teriakan promosi jualannya merusak gendang telinga itu. Jam segini biasanya dia sudah hilir mudik mengobras keranjang nasinya di depan rumah ku ini. 60mnt, 90mnt, ahh.. Sdh 2 jam saya merindukan bocah itu, sudah semalaman tadi saya kelaparan pula. Bocah tengik! Tapi sudahlah, tak masuk akal juga jika menyalahkan bocah penjual itu atas derita lapar ku pagi ini..
Hmm.. Sudah jam 9. Apa? Ada yang salah? Iya, saya belum beraktivitas pagi ini. Bukan, bukan masalah lapar dan nasi kuning, masih karena hujan lantas saya terkurung di rumah bisu ini. Padahal sebelum hujan tadi saya mau memastikan kalau pagi ini saya telah sementara sedang kuliah di ruangan kelas FIB 213. Senin yang ku benci memberi hujan di pagi hari, adakah yang lebih buruk? Apakah ini Tuhan punya kehendak? Atau ada semacam mesin di rumah seorang penjahat yang sengaja menyalakan mesin hujannya agar ekonomi mikro bocah pedagang nasi kuning defisit dan agar nilai mid smester ku timpang? Maaf, saya bukan bermaksud berstetmen hujan adalah kejahatan, cuma mau mencari kambing hitam supaya terlihat hari senin ku lebih baik tanpa hujan..
Sebuah harapan masih tersisa tentunya, semoga dosen ku yang maha disiplin itu membatalkan niatnya untuk tetap disiplin hari ini dan tak memberi efek sarkastis pada ku lagi. Dan untuk mu hujan, merasa bergembiralah, selamat! Kau sukses memincangkan sejenak aktifitas maros, pasar sepi, jalan raya lengang, sungai keruh, langit gelap dan laut bergelombang parang. Apakah kau tahu kuliah ku hancur atau kau senang melihatnya hancur?! Ayolah hujan, sadarlah. Pagi ini banyak yang membenci mu, kau membuat orang semakin repot di pagi ini..
Bukannya saya takut pada mu, tapi tidak keren jika saya masuk kampus dengan badan menggiggil basah kuyup, kan?!
Hmm.. Jika hujan sudah reda, makan nasi kuning tidak ya? Ke kampus tidak ya?
-Maros, 280311-
Hmm.. Sudah jam 9. Apa? Ada yang salah? Iya, saya belum beraktivitas pagi ini. Bukan, bukan masalah lapar dan nasi kuning, masih karena hujan lantas saya terkurung di rumah bisu ini. Padahal sebelum hujan tadi saya mau memastikan kalau pagi ini saya telah sementara sedang kuliah di ruangan kelas FIB 213. Senin yang ku benci memberi hujan di pagi hari, adakah yang lebih buruk? Apakah ini Tuhan punya kehendak? Atau ada semacam mesin di rumah seorang penjahat yang sengaja menyalakan mesin hujannya agar ekonomi mikro bocah pedagang nasi kuning defisit dan agar nilai mid smester ku timpang? Maaf, saya bukan bermaksud berstetmen hujan adalah kejahatan, cuma mau mencari kambing hitam supaya terlihat hari senin ku lebih baik tanpa hujan..
Sebuah harapan masih tersisa tentunya, semoga dosen ku yang maha disiplin itu membatalkan niatnya untuk tetap disiplin hari ini dan tak memberi efek sarkastis pada ku lagi. Dan untuk mu hujan, merasa bergembiralah, selamat! Kau sukses memincangkan sejenak aktifitas maros, pasar sepi, jalan raya lengang, sungai keruh, langit gelap dan laut bergelombang parang. Apakah kau tahu kuliah ku hancur atau kau senang melihatnya hancur?! Ayolah hujan, sadarlah. Pagi ini banyak yang membenci mu, kau membuat orang semakin repot di pagi ini..
Bukannya saya takut pada mu, tapi tidak keren jika saya masuk kampus dengan badan menggiggil basah kuyup, kan?!
Hmm.. Jika hujan sudah reda, makan nasi kuning tidak ya? Ke kampus tidak ya?
-Maros, 280311-
sambarang.. (part 2)
Nda tau kenapa saya menulis lg, nda tau mau tulis apa, nda tau apa lg ini mau ku bilang. Ini juga lagu yg ku putar nda mmbri inspirasi, cuma untk mngisi kosong malam dgn distorsi nya The Black Dahlia Murder, ka ini ji lagu yg enak didengar klo lg sndiri. Bahaya klo dgr lagu cinta, mnghayal ja' trus na pakamma itu! Apa lg skrg z lg rindu sama anakx Aji di kota sebelah, apa lagi ini sweaternya ku pke 1 set dgn t-shirt hitam ole2 dr bandung. Cocok skali dgn badan ku yg kering dan gersang ini! Haha.. Tp nyaman ja' dgn ini badan ku, biar berantakan tampilanx tp masih brfungsi ji sistemnya. Bukanx sombong ces tp bgini2 ada tonji yg bisa dibanggakan, bnyk ji org yg nda malu berkawan ma z, msih bisa ja brbicara bnyk ttg dunia. HAHA! Ededeehh.. Ada mi sedeng i ontong nda mau brhnti cerita, ndada puppusu'na leher na, i bucek na bati2i tommi. Iccong bru dtg sma tman kampus na diam2 mami, psti lg bingung apa na crita itu ontong! Tp mengaku ka sama ini org, slalu bikin dunia tertawa dengan cerita nda masuk akalnya. Walau ku tau dia nda segembira tawa bahaknya sendiri. Dia nda pandai mengeluh, nda bisa murung, slalu mau ma'laga-laga sama diamnya org lain. Terasa skali malam klo ndadai, pasti damai n tenang dunia. Tp biar mi bgtu, yg pnting ontong datang smua senang!
*Pasang headset dlu spy bisa fokus, ka i bucek ktawax bsar skali, kabulampe'!
Mmm.. Apa lagi.. Ehh.. Tanggal 30 desember mi, pdhl bru kmarin rasanya tnggl 29. Waktu cpat skali brlalu behh! Mau mi tahun baru, tawwa! Toa mi linoa karaeng.. Apa yg sudah ku bikin ini donasi 1 tahun kblakang di'? Hhmm.. Ndada yg spesial, ndada yg bisa ku crita bnyak sama pace-mace ku dgr nada suara bangga. Kuliah ku bgtu2 tonji, masih tapputar2 di MKU, jarang ke jurusan pa lg ke rektorat. Plg tmani nunu ksi masuk proposal kgiatan ji.. Jangan mi dlu crita sarjana, msih betah ka dgn status mhsiswa ku, berat kaki ku tinggalkan kolonk sastra dgn kopi panas dan rokok suryanya. Msih bnyk jg utang ku di mace, kmarin sj utang lg nasi 5ribu rokok marlboro 1bngks n kopi sekian gelas. Kredit sudah mencapai puluhan juta rupiah! Haha.. Apa lg mahasiswi yg slalu menjadi idola para pemuda kering sprti saya, yg pling ku kagumi mahasiswi dr ekonomi yg klo pagi msih basah rambutnya ke kmpus lewat d dpn ku yg lg minum kopi sambil bersiul lale.. Aduhh.. I loved those moments! Bosan cuci mata, lanjut main domi sama ones, callu, soren, ai' cs. Blum lg ku ganggu nunu atw ulla si ketua maperwa yg bijak itu dgn dukungan dr lala raja makkompa.
Tp sprtinya harus ma' srius sikapi i2 prtanyaan, "kpn z sarjana?". Smestrer 8 mi ee, sbagian tman2 ku sdh mau pke toga tp z biar rompi KKN msih lama juga bahh! Mulai ma risih dgn finishx bbrapa org tman ku d baruga wisuda, apa lg pace mace mulai naik alisnya klo brtanya ttg kuliah ku. Hmm.. Ada ji juga iya kmauan cpat2 slse, tp bru pi muncul beberapa jam yg lalu stlah mulai kuliah beberapa tahun lalu, aduhh! Slow but sure, yg pnting ada mi kmauan untk cpat slse, plg tdk sdikit bisa memanggil jiwa ku untuk bsa bangun pagi spy bsa rajin masuk kuliah! Hahaha.. Na blg lala, "kmpus msih butuh org2 sprti kita!". Massu'nu aldilah hasan?!
Ahh.. Capek crita kmpus, bikin jantung brdebar2 sj..
Jam stngah 1 mi, sms ki dlu anakx Aji deh. Ksi prtanyaan spekulasi, lg ngapain, blom tdur, jgn bgadang, nda hujan dsana, dan prtanyaan bullshit lainx. Pdhl ujung2x cma mau ka dtmani habisi malam sama dia yg trbaik! Haha..
Capek ma jg tindis2 tombolx ini hp, keram mi jempol ku! Lgpula ank2 ktawa2 seru smua, masih ontong narasumber nya. Masih ttg crita karburator motor smpe irfan bahdim na crita..
Ehh.. Dtg heri gembel, adadahh.. Panjang ini crita, ada lg siluman sapi lg mabuk ikut tambah ksi rusak forum!
Sudah mi deh, keram tojeng mi jempol ku!
*Pasang headset dlu spy bisa fokus, ka i bucek ktawax bsar skali, kabulampe'!
Mmm.. Apa lagi.. Ehh.. Tanggal 30 desember mi, pdhl bru kmarin rasanya tnggl 29. Waktu cpat skali brlalu behh! Mau mi tahun baru, tawwa! Toa mi linoa karaeng.. Apa yg sudah ku bikin ini donasi 1 tahun kblakang di'? Hhmm.. Ndada yg spesial, ndada yg bisa ku crita bnyak sama pace-mace ku dgr nada suara bangga. Kuliah ku bgtu2 tonji, masih tapputar2 di MKU, jarang ke jurusan pa lg ke rektorat. Plg tmani nunu ksi masuk proposal kgiatan ji.. Jangan mi dlu crita sarjana, msih betah ka dgn status mhsiswa ku, berat kaki ku tinggalkan kolonk sastra dgn kopi panas dan rokok suryanya. Msih bnyk jg utang ku di mace, kmarin sj utang lg nasi 5ribu rokok marlboro 1bngks n kopi sekian gelas. Kredit sudah mencapai puluhan juta rupiah! Haha.. Apa lg mahasiswi yg slalu menjadi idola para pemuda kering sprti saya, yg pling ku kagumi mahasiswi dr ekonomi yg klo pagi msih basah rambutnya ke kmpus lewat d dpn ku yg lg minum kopi sambil bersiul lale.. Aduhh.. I loved those moments! Bosan cuci mata, lanjut main domi sama ones, callu, soren, ai' cs. Blum lg ku ganggu nunu atw ulla si ketua maperwa yg bijak itu dgn dukungan dr lala raja makkompa.
Tp sprtinya harus ma' srius sikapi i2 prtanyaan, "kpn z sarjana?". Smestrer 8 mi ee, sbagian tman2 ku sdh mau pke toga tp z biar rompi KKN msih lama juga bahh! Mulai ma risih dgn finishx bbrapa org tman ku d baruga wisuda, apa lg pace mace mulai naik alisnya klo brtanya ttg kuliah ku. Hmm.. Ada ji juga iya kmauan cpat2 slse, tp bru pi muncul beberapa jam yg lalu stlah mulai kuliah beberapa tahun lalu, aduhh! Slow but sure, yg pnting ada mi kmauan untk cpat slse, plg tdk sdikit bisa memanggil jiwa ku untuk bsa bangun pagi spy bsa rajin masuk kuliah! Hahaha.. Na blg lala, "kmpus msih butuh org2 sprti kita!". Massu'nu aldilah hasan?!
Ahh.. Capek crita kmpus, bikin jantung brdebar2 sj..
Jam stngah 1 mi, sms ki dlu anakx Aji deh. Ksi prtanyaan spekulasi, lg ngapain, blom tdur, jgn bgadang, nda hujan dsana, dan prtanyaan bullshit lainx. Pdhl ujung2x cma mau ka dtmani habisi malam sama dia yg trbaik! Haha..
Capek ma jg tindis2 tombolx ini hp, keram mi jempol ku! Lgpula ank2 ktawa2 seru smua, masih ontong narasumber nya. Masih ttg crita karburator motor smpe irfan bahdim na crita..
Ehh.. Dtg heri gembel, adadahh.. Panjang ini crita, ada lg siluman sapi lg mabuk ikut tambah ksi rusak forum!
Sudah mi deh, keram tojeng mi jempol ku!
tirani harus tumbang!
Lima tahun bukan waktu yang teramat pendek. Apalagi untuk dihabiskan di dalam sebuah ruangan beku bernama penjara. Apalagi untuk sebuah perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Tapi Sengkon dan Karta mengalaminya. Kepada siapakah mereka harus mengadu, jika sebuah lembaga bernama pemerintah tidak bisa lagi dipercaya? Sebab keadilan tidak pernah berpihak kepada Sengkon, juga Karta, juga mereka yang lain, yang bernama rakyat kecil.
Alkisah sebuah perampokan dan pembunuhan menimpa pasangan suami istri Sulaiman-Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi. Tahun 1974. Beberapa saat kemudian polisi menciduk Sengkon dan Karta, dan menetapkan keduanya sebagai tersangka.
Keduanya dituduh merampok dan membunuh pasangan Sulaiman-Siti Haya. Tak merasa bersalah, Sengkon dan Karta semula menolak menandatangani berita acara pemeriksaan. Tapi lantaran tak tahan menerima siksaan polisi, keduanya lalu menyerah. Hakim Djurnetty Soetrisno lebih mempercayai cerita polisi ketimbang bantahan kedua terdakwa. Maka pada Oktober 1977, Sengkon divonis 12 tahun penjara, dan Karta 7 tahun. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Jawa Barat.
Dalam dinginnya tembok penjara itulah mereka bertemu seorang penghuni penjara bernama Genul, keponakan Sengkon, yang lebih dulu dibui lantaran kasus pencurian. Di sinilah Genul membuka rahasia: dialah sebenarnya pembunuh Sulaiman dan Siti!. Akhirnya, pada Oktober 1980, Gunel dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.
Meski begitu, hal tersebut tak lantas membuat mereka bisa bebas. Sebab sebelumnya mereka tak mengajukan banding, sehingga vonis dinyatakan telah berkekuatan hukum tetap. Untung ada Albert Hasibuan, pengacara dan anggota dewan yang gigih memperjuangkan nasib mereka. Akhirnya, pada Januari 1981, Ketua Mahkamah Agung (MA) Oemar Seno Adji memerintahkan agar keduanya dibebaskan lewat jalur peninjauan kembali.
Berada di luar penjara tidak membuat nasib mereka membaik. Karta harus menemui kenyataan pahit: keluarganya kocar-kacir entah ke mana. Dan rumah dan tanah mereka yang seluas 6.000 meter persegi di Desa Cakung Payangan, Bekasi, telah amblas untuk membiayai perkara mereka.
Sementara Sengkon harus dirawat di rumah sakit karena tuberkulosisnya makin parah, sedangkan tanahnya yang selama ini ia andalkan untuk menghidupi keluarga juga sudah ludes dijual. Tanah itu dijual istrinya untuk menghidupi anak-anaknya dan membiayai dirinya saat diproses di polisi dan pengadilan. Walau hanya menanggung beban seorang istri dan tiga anak, Sengkon tidak mungkin meneruskan pekerjaannya sebagai petani, karena sakit TBC terus merongrong dan terlalu banyak bekas luka di badan akibat siksaan yang dideranya.
Sementara itu Sengkon dan Karta juga mengajukan tuntutan ganti rugi Rp 100 juta kepada lembaga peradilan yang salah memvonisnya. Namun Mahkamah Agung menolak tuntutan tersebut dengan alasan Sengkon dan Karta tidak pernah mengajukan permohonan kasasi atas putusan Pengadilan Negeri Bekasi pada 1977. "Saya hanya tinggal berdoa agar cepat mati, karena tidak ada biaya untuk hidup lagi."’ kata Sengkon.
Lalu Tuhan berkuasa atas kehendaknya. Karta tewas dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Sengkon meninggal kemudian akibat sakit parahnya. Di sanalah mereka dapat mengadu tentang nasibnya, hanya kepada Tuhan.
ternyata nampak jika keadilan tidak selalu milik orang kecil, bahkan jarang berpihak membela mereka, membela kita. aneka ragam kasus yang bermotif sama juga terjadi di tanah kita tanah sulawesi selatan, tentunya masih di Indonesia. ranah kehidupan masyarakat kecil yang harus membeli buah mangga yang tumbuh di halaman rumahnya sendiri bukan lagi sesuatu yang akan dibela oleh pembela berwajib. kasus sengeta tanah petani gula Takalar, sengketa lahan Polongbangkeng, kassi'-kassi', PHK massiv membabi buta PT. BOMAR, asuransi outscourcing, jatah Askes rakyat miskin, pendidikan gratis keluarga buruh dan masih banyak ironi lain yang menumpuk dibalik kasus korupsi pejabat atau kasus video mesum ariel-luna maya.
memang benar kata Pramoedya dalam karya Bumi Manusia nya, "jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana. biarpun penglihatanmu setajam mata elang. pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan. pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”. gambaran tersebut melafalkan kemisteriusan manusia beserta takdirnya. kita tak pernah tahu sejauh mana manusia bisa berbuat dan berhenti serakah. selama masih merasa kurang, mereka pasti merasa kekurangan. tapi keadilan, selama masih tidak adil, rakyat selalu mencari keadilan, cooyyy...
------------>
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak Kau kehendakiadanya
Engkau lebih suka membangun Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami Di manapun – tirani harus tumbang!
(--Wiji Thukul, Tirani Harus Tumbang--)
Alkisah sebuah perampokan dan pembunuhan menimpa pasangan suami istri Sulaiman-Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi. Tahun 1974. Beberapa saat kemudian polisi menciduk Sengkon dan Karta, dan menetapkan keduanya sebagai tersangka.
Keduanya dituduh merampok dan membunuh pasangan Sulaiman-Siti Haya. Tak merasa bersalah, Sengkon dan Karta semula menolak menandatangani berita acara pemeriksaan. Tapi lantaran tak tahan menerima siksaan polisi, keduanya lalu menyerah. Hakim Djurnetty Soetrisno lebih mempercayai cerita polisi ketimbang bantahan kedua terdakwa. Maka pada Oktober 1977, Sengkon divonis 12 tahun penjara, dan Karta 7 tahun. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Jawa Barat.
Dalam dinginnya tembok penjara itulah mereka bertemu seorang penghuni penjara bernama Genul, keponakan Sengkon, yang lebih dulu dibui lantaran kasus pencurian. Di sinilah Genul membuka rahasia: dialah sebenarnya pembunuh Sulaiman dan Siti!. Akhirnya, pada Oktober 1980, Gunel dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.
Meski begitu, hal tersebut tak lantas membuat mereka bisa bebas. Sebab sebelumnya mereka tak mengajukan banding, sehingga vonis dinyatakan telah berkekuatan hukum tetap. Untung ada Albert Hasibuan, pengacara dan anggota dewan yang gigih memperjuangkan nasib mereka. Akhirnya, pada Januari 1981, Ketua Mahkamah Agung (MA) Oemar Seno Adji memerintahkan agar keduanya dibebaskan lewat jalur peninjauan kembali.
Berada di luar penjara tidak membuat nasib mereka membaik. Karta harus menemui kenyataan pahit: keluarganya kocar-kacir entah ke mana. Dan rumah dan tanah mereka yang seluas 6.000 meter persegi di Desa Cakung Payangan, Bekasi, telah amblas untuk membiayai perkara mereka.
Sementara Sengkon harus dirawat di rumah sakit karena tuberkulosisnya makin parah, sedangkan tanahnya yang selama ini ia andalkan untuk menghidupi keluarga juga sudah ludes dijual. Tanah itu dijual istrinya untuk menghidupi anak-anaknya dan membiayai dirinya saat diproses di polisi dan pengadilan. Walau hanya menanggung beban seorang istri dan tiga anak, Sengkon tidak mungkin meneruskan pekerjaannya sebagai petani, karena sakit TBC terus merongrong dan terlalu banyak bekas luka di badan akibat siksaan yang dideranya.
Sementara itu Sengkon dan Karta juga mengajukan tuntutan ganti rugi Rp 100 juta kepada lembaga peradilan yang salah memvonisnya. Namun Mahkamah Agung menolak tuntutan tersebut dengan alasan Sengkon dan Karta tidak pernah mengajukan permohonan kasasi atas putusan Pengadilan Negeri Bekasi pada 1977. "Saya hanya tinggal berdoa agar cepat mati, karena tidak ada biaya untuk hidup lagi."’ kata Sengkon.
Lalu Tuhan berkuasa atas kehendaknya. Karta tewas dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Sengkon meninggal kemudian akibat sakit parahnya. Di sanalah mereka dapat mengadu tentang nasibnya, hanya kepada Tuhan.
ternyata nampak jika keadilan tidak selalu milik orang kecil, bahkan jarang berpihak membela mereka, membela kita. aneka ragam kasus yang bermotif sama juga terjadi di tanah kita tanah sulawesi selatan, tentunya masih di Indonesia. ranah kehidupan masyarakat kecil yang harus membeli buah mangga yang tumbuh di halaman rumahnya sendiri bukan lagi sesuatu yang akan dibela oleh pembela berwajib. kasus sengeta tanah petani gula Takalar, sengketa lahan Polongbangkeng, kassi'-kassi', PHK massiv membabi buta PT. BOMAR, asuransi outscourcing, jatah Askes rakyat miskin, pendidikan gratis keluarga buruh dan masih banyak ironi lain yang menumpuk dibalik kasus korupsi pejabat atau kasus video mesum ariel-luna maya.
memang benar kata Pramoedya dalam karya Bumi Manusia nya, "jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana. biarpun penglihatanmu setajam mata elang. pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan. pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”. gambaran tersebut melafalkan kemisteriusan manusia beserta takdirnya. kita tak pernah tahu sejauh mana manusia bisa berbuat dan berhenti serakah. selama masih merasa kurang, mereka pasti merasa kekurangan. tapi keadilan, selama masih tidak adil, rakyat selalu mencari keadilan, cooyyy...
------------>
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak Kau kehendakiadanya
Engkau lebih suka membangun Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami Di manapun – tirani harus tumbang!
(--Wiji Thukul, Tirani Harus Tumbang--)
menapaki atap Sulawesi, Gunung latimojong (puncak rantemario)..
Minggu 1 Agustus 2010, di halaman Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, secara khidmat dilakukan doa bersama yang mengantar keberangkatan tim pendakian Gunung Latimojong, Enrekang. 4 orang pendaki tuan rumah dari UKM PA Edelweis FIB-UH sejatinya mengantar seorang tamu dari Mapala Galara UNTAD, Palu. Namun karena tak seorangpun dari ke-empat mapala Edelweis itu yang pernah menyentuh trangulasi Latimojong, maka diadakanlah pendakian latimojong perdana mereka bersama.
Ialah puncak Rantemario yang menjadi target pendakian, berada pada ketinggian 3468Mdpl tentu dapat ditebak jalur menuju puncak tidak seenteng jogging yang menjadi latihan dasar sebelum mendaki. Terlebih status latimojong yang merupakan gunung tertinggi di Sulawesi kian merambah semangat para pemuda itu untuk bisa duduk di atas trangulasinya kelak. Tim pendakian dibekali GPS dan peta sebagai pedoman navigasi dan nyali menembus terjalnya jalur serta tajamnya dingin yang mengacaukan aliran darah.
Tim berangkat menuju Enrekang sekitar pukul 05.30 dengan menggunakan jasa mobil angkutan antar kota. Perjalanan diisi dengan beristirahat menutup kantuk yang tersisa sehabis packing semalaman. Tiba di Enrekang melewati pasar Baraka yang terkenal akan kopinya dan menuju polsek Baraka melapor kepada petugas setempat, sekedar pemberitahuan untuk mengantisipasi jika seandainya terjadi sesuatu di atas gunung nanti. Setelah memasukkan surat, kemudian tim menyempatkan berkunjung ke base camp KPA Lembayung yang berada tidak jauh di depan polsek Baraka. Namun tak ada seorang personil yang bisa menyambut tim, pasalnya mereka juga sedang mengantar tamu lain yang juga naik ke latimojong. Tim pun hanya berinisiatif mengisi buku tamu serta titipan salam untuk kawan-kawan KPA Lembayung,” Salam Lestari”, katanya.
Tim pendakian gunung Latimojong kemudian menerima tawaran dari sopir yang mengantar dari Makassar tadi untuk menunggu mobil menuju kampung ke kaki gunung di depan rumahnya sambil sedikit beristirahat disana. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 namun belum ada tanda-tanda akan adanya mobil yang bersedia mengantar tim. Hingga pukul 15.30 akhirnya sebuah truk pengangkut barang yang terlihat tak perkasa lagi bersedia mengantar tim namun tak mungkin sampai di Rantelemo, 2 desa terakhir menuju kaki gunung yang bisa diakses oleh mobil. Karena malas menghabiskan waktu menunggu lebih lama, tim harus naik ke truk tersebut.
Petualangan dimulai lebih awal, karena musim hujan membuat jalan pengerasan becek dan berlubang membuat mobil mirip kendaraan off-road. Tim yang dibuat tercegang menahan rasa was-was kian merapatkan pegangannya di tiang mobil, terlebih di sisi kanan ialah jurang yang menganga yang tak terlihat dasarnya. Kemiringan mobil juga mencapai 30 derajat kian mempercepat adrenalin yang dipacu 30 menit lamanya. Tim sempat terkesima melihat semangat nasionalisme anak-anak di desa itu, jalan yang berkubang serta terjal medan tak membuat mereka gentar untuk latihan baris-berbaris persiapan lomba tahunan nanti. Off-road terus berlanjut. Beberapa kali mobil tak mampu bergerak oleh licinnya jalanan yang mengubur roda-rodanya, membuat mobil terpaksa ditarik penumpang secara marathon. Sungguh sebuah awal perjalanan yang melelahkan.
Tim tiba di desa tujuan truk, desa Pasonken sekitar pukul 17.00. setelah melihat mepetnya waktu, tim melanjutkan perjalanan menuju planning camp di desa Pantelemo. Setelah berjalan hampir 2 jam lamanya, tim memutuskan untuk untuk camp di rumah penduduk pada pukul 19.30.
Perjalanan dilanjutkan pada pagi harinya, targetnya ialah pos 2 untuk hari ini. Masih melewati jalan berkubang serta track yang panjang dan mendaki cukup mempercepat nafas tim melaju. Tiba di desa rantelemo pukul 11.00 tim menempatkan beristirahat sejenak di rumah warga. Masih tersisa 2 kampung lagi menuju kaki gunung. Tim kemudian sampai di kampung terakhir, desa Karangan yang merupakan kampung terdekat dari kaki gunung. Tim makan siang di rumah penduduk dengan ransum sendiri seadanya yang dianggap berbobot untuk pasokan energi hingga petang nanti.
tim mulai masuk kaki gunung dengan energi baru dan semangat yang menggebu. Memacu langkah kaki menapaki tiap jengkal tanah secara cepat. Terdapat banyak celah sungai dan mata air di gerbang rimba juga medan yang belum terlalu terjal membuat perjalanan enteng. Hingga tiba di pendakian terjal pertama yang cukup licin dan setapak langkah, tim mulai mengatur formasi jalan dari leader hingga sweeper. Tak banyak cerita yang bisa dikisahkan dalam perjalanan kali ini, hanya lebatnya hutan tertutup dan pohon berlumut yang mendominasi pandangan mata. Pos 1 di jumpai di titik landai lainnya tidak terlalu luas namun cukup untuk 2 tenda dan tak ada sumber air.
Tak banyak waktu yang digunakan beristirahat di pos 1, tim hanya menyempatkan mendata camp dan meneguk air lalu melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju pos 2 dilanjutkan sudah masuk sore hari, kian memaksa tim untuk lebih mempercepat langkahnya. Tak jauh berbeda dengan keadaan jalur dari pos 1 tadi, jalan licin dan setapak yang cukup menyulitkan tapi tak membuat gentar para pendaki ini untuk berdiri di tempat tertinggi di Sulawesi. Jurang-jurang yang cukup besar juga cukup mengancam langkah tim untuk lebih berhati-hati, tiap saat longsor bisa saja terjadi mengingat hujan yang mengguyur membuat tanah menjadi lembek dan pohon tak lagi kuat berpegang pada tanah.
Beberapa kali tim menyempatkan untuk beristirahat menarik nafas sejenak di tempat-tempat memungkinkan untuk duduk. Pasalnya sangat jarang ditemui tempat-tempat landai, luas dan terbuka di jalur ini. Track up dan track down sering dijumpai sambil menyisir punggungan di bekali pegangan akar dan tumbuhan liar sebagai pegangan. Vegetasi liarnya juga tak banyak menampilkan tumbuhan konsumtif dan sukar dikenali.
Setelah berjalan kosong beberapa lama, terdengarlah arus sungai yang deras yang meandakan pos 2 sudah tak jauh lagi. Tinggal menyusuri pinggiran sungai dari punggungan gunung yang sedikit menurun menuju dasar aliran sungai. Tim tiba di pos 2 sebagai target hari itu pada pukul 17.30 dengan keadaan masih fit dan semangat walau sedikit agak lelah menembus panjang track dari kampung hingga pos 2 ini.
Keadaan di pos 2 lumayan nyaman, berada di shelter pinggir sungai aliran deras cukup untuk 2-3 tenda. Terlebih lagi terdapat tempat landai lain di bagian bawah yang cukup luas dan nyaman. Sumber air jelas berada dekat dengan camp, airnya juga segar, dingin dan murni. Namun sayang camp terlihat tak terawat karena banyaknya tumpukan sampah non-organik berupa kaleng, botol, plastik dan cat mengotori dinding shelter yang mengurangi wajah alami pos 2 itu. Terpaksa tim bekerja ekstra sebagai Mahasiswa Pecinta Alam yang menjunjung tinggi Kode Etik Pecinta Alam untuk membersihkan camp tersebut sebagai bukti tanggung jawab akan loyalitas terhadap janji kepada lembaga dan ciptaan Tuhan yang Maha Besar.
Setelah beristirahat dan membersihkan camp pada camp bagian bawah lalu ditimbun, secara gotong royong tim membagi tugas untuk kegiatan malam itu. Mulai dari juru masak, mendirikan tenda dan cuci ransum. Suara aliran sungai yang cukup deras menbuat tim berkomunikasi dengan suara agak keras, terlebih jarak dengan sungai hanya beberapa meter di depan camp. Setalah makan malam tim kemudian beristirahat mempersiapkan perjalanan besok yang tak kalah serunya.
Dingin angin yang menembus sleeping Bag membuat tim bangun lebih awal subuh itu. Sambil menghangatkan air membuat kopi pengahangat badan, tim juga mulai mem-packing barang dan membongkar tenda. Setelah sarapan roti dan mengisi jeregen di sungai, tim pun melanjutkan perjalanan menuju pos 5. Maklum, dari beberapa sumber mengatakan tak ada lagi sumber air di pos berikutnya hingga pos 5, itu pun berada jauh dari camp berjarak hampir 1 kilo. Maka tim antisipatif dengan menyiapkan 2 jeregen kapasitas 5 liter sekaligus terisi penuh.
Jalus akses pada medan kali ini terbilang cukup sulit karena habis longsor. Tanah retak dan banyaknya pohon tumbang menjadi kendala untuk berjalan lebih cepat. Terlebih lagi jalur yang lebih panjang ditempuh sekitar 2 jam penuh. Beruntung cuaca yang sedikit lebih bersahabat yang tidak terlalu mengguyur Latimojong dengan deras dan kondisi tim yang masih prima sehabis istirahat semalaman dan sarapan pagi tadi. Medan menanjak curam sesekali menantang tim untuk melangkah ekstra hati-hati, melihat bebatuan yang mudah lepas membahayakan anggota tim yang berjalan di belakang. Belum lagi pegangan akar dan dahan yang rapuh sempat menghentak beberapa anggota tim terperosok. Beruntung hingga pos berikutnya tak terjadi cedera berarti.
Pos 3 berhasil di capai tim setelah berjalan sekitar hampir 2 jam. Keadaan pos sendiri tidak cukup baik untuk mendirikan camp. Keadaan medan yang tidak landai dan tidak cukup luas hanya bisa dijadikan tempat istirahat saja. Tim menyempatkan menghabisi 1-2 batang rokok tentu saja sambil mendata pos. setelah beristirahat cukup lama dan menuntaskan pendataan, perjalanan dilanjutkan menuju pos 4. Medan yang dilalui mulai berubah di jalur ini. Jika jalur pos 1 ke 2 dan 2 ke 3 dilalui dengan menyisir punggungan, jalur pos 3 ke 4 malah lebih banyak mendaki dengan pemandangan terbuka dan dingin lebih terasa. Kecepatan langkah juga sudah bisa diatur meskipun nafas yang sesekali kedodoran membuat tim singgah mengirup 3-5 tarikan nafas menghela detakan jantung.
Nikmatnya view dijalur itu membuat tim merasa enjoy dan tak menyangka sudah tiba di pos 4. Keadaan di pos itu agak terbuka, bisa didirikan camp, agak landai meski beralaskan batu yang tidak rata, namun tak ada sumber air. Jarak ke pos 4 kurang lebih 0,6 km atau waktu tempuh normal 1 jam. Tim kemudian tak mau berlama-lama mengabiskan waktu di pos itu, melihat pos 5 yang menjadi camp untuk hari itu sudah dekat. Perjalanan yang dilanjutkan dengan masih diiringi semangat dan fisik yang mulai goyang karena menerobos 3 pos sekaligus dalam waktu singkat sekitar 3 jam. Perjalanan tak jauh berbeda dengna jalur sebelumnya. Menanjak, terjal dan panjang.
Hingga tiba di pos 5 sekitar pukul 12.00, terlihat beberpa tenda telah berdiri namun tak berpenghuni. Mungkin pendaki lain punya planning yang sama dengan tim. Yaitu camp di pos 5 lalu ke puncak agar lebih enteng tanpa membawa carrier. Pasalnya musim hujan membuat repot jika camp di pos 7 yang terbuka dan suhu yang ekstrim. Tim mulai memasang flysheet sebagai tembat bernaung berhubung hujan mengguyur sejak pagi tadi. Sembari mempersiapkan misting, trangia dan kompor portable untuk masak makan siang. Tak lama berselang, 2 penghuni camp sebelumnya dari salah satu KPA Makassar lebih dahulu turun dan menyapa tim dengan salam khasnya. Tim kemudian menyuguhkan kopi hangat dan makanan seadannya karena mereka akan segera turun melihat masih cukup banyak waktu untuk tiba di Karangan.
Keadaan pos 5 sendiri cukup luas, sangat nyaman untuk camp. Lokasinya tertutup dengan sedikit salah satu sudut yang menyajikan view terbuka. Cukup untuk 5-7 tenda. Terdapat sumber air, namun dengan jarak tempuh yang cukup jauh ke sebelah kiri bawah camp. Tim yang masih menyisakan 2 jeregen air dari pos 2, dan hasil air tampungan dari hujan membuat tim tak perlu repot mengambil air.
Hingga pada sore harinya, Mapala lain dari Mahadipa STMIK Dipanegara yang juga mengantar Mapala dari Manado tiba di pos 5 setelah di guyur hujan ketika di puncak. Terjalin keakraban yang lebih terasa berhubung beberapa anggota tim sudah saling kenal. Tak perlu saling sungkan untuk saling bercanda, menawari rokok dan kopi serta cemilan. Hingga malam tiba ketika sudah bosan berlama-lama beristirahat selama stengah hari penuh, tim kemudian beristirahat lebih cepat untuk menghangatkan badan yang diiris dingin serta hujan malam itu di Latimojong.
Pagi tiba, namun cuaca kurang bersahabat. Hujan masih mengguyur membuat tim berpikir untuk tembus ke puncak. Karena tak ada tanda-tanda akan redanya hujan, maka pada pukul 08.00 tim mengambil resiko untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga top destinasi. Bermodalkan semangat dan mental yang masih prima, seluruh anggota tim tak terlihat gentar sedikitpun.
Seperti biasa, sebelum melanjutkan perjalanan, doa bersama dipimpin oleh panglima operasi. Memohon perlindungan kepadaNya serta mensyukuri nikmat hari ini dariNya. Medan yang semakin licin dan terjal kian mendramatisir panjangnya cerita di jalur itu. Tak ada bonus yang diberikan, hanya tempat bijakan berdiri yang tersaji. Suhu dingin yang menusuk kian membuat nafas tiap anggota semakin pendek. Lelah dan jantung berdetak lebih kencang seperti gendering mau perang, akibat tipisnya oksigen di ketinggian 2800Mdpl itu. Ketangguhan tim kembali di uji dengan melewati jalur setapak yang berair mengalir, tak pelak tim perlu memperhatikan tiap langkahnya memastikan pijakannya aman.
Tiba di pos 6 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam adalah waktu yang dirasa maksimal tanpa beban carrier yang sengaja di tinggal di pos 5. Keadaan pos 6 agak terbuka, tidak cukup luas namun landai. Tak tahan oleh dingin di pos 6 membuat tim harus bergegas. Langkah menjadi makin lambat oleh makin turunnya suhu dan seiring derasnya hujan yang sempat membuat tim singgah lebih banyak untuk menarik nafas sejenak. Tiba di pos 7 setelah berjalan selama 1 jam lebih. Jarak memang tak terlalu panjang namun nafas yang mulai terbata-bata menyulitkan tim untuk tiba lebih cepat. Di pos 7 tim mengambil inisiatif untuk makan siang sambil menghangatkan badan. 2 misting nasi dan 2 bungkus mie instan cukup menanbah sedikit energi untuk ke puncak. Tak mau berlama-lama tertusuk dingin, tim menyegerakan langkah menuju pos akhir, puncak Rantemario.
Keadaan di pos 7 sendiri lebih terbuka. Untuk keadaan saat itu, cukup ekstrim jika ingin camp di pos 7 dengan cuaca hujan. Dinginnya suhu menjadi kendala utama, membuat suara terbata-bata untuk berkata.
Perjalanan dilanjutkan menanjaki terjal medan. Kali ini perjalanan terasa begitu panjang dan cukup menbuat tim mulai kehabisan nafas. Namun medan yang sudah agak landai memnjadi bonus tersendiri bagi pendaki. Terlihat panorama alam yang luar biasa sepanjang perjalanan. Danau alami yang terbentuk dan batuan putih mengantar menuju puncak.
Tim tiba di trangulasi dengan tidak cukup beruntung. Keadaan di puncak tertutup kabut serta hujan menambah ekstrimnya suhu mendekati 0o celcius. Setelah mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama, panglima operasi selaku pengambil keputusan memutuskan untuk kembali berhubung suhu dan udara yang semakin menipis tidak memungkinkan untuk tinggal lebih lama. Perjalanan kembali tak semudah yang diperkirakan. Jalur licin kerap kali membuat anggota tim jatuh bangun. Namun semua terbayar oleh rasa puas dan gembira yang tak terbahasakan setelah berdiri di atap Sulawesi.
Setibanya di pos 5, Tim kemudian mengambil langkah taktis untuk segera packing karena masih cukup waktu untuk tiba di kaki gunung dengan resiko jalan malam. Tim mulai bergerak turun pada pukul 14.00 dan tiba di pemukiman warga sekitar pukul 19.00 di kampung Karangan. Keadaan tim yang sudah all-out benar-benar terkuras habis setelah menghabiskan 1 jalur turun dalam sehari dengan keadaan medan yang parah akibat longsor.
Pagi harinya tim pamit kepada tuan rumah dan bertewrimakasih atas tumpangannya serta melanjutkan perjalanan ke rantelemo untuk menunggu mobil yang akan mengantar tim kembali keluar dari kampung. Namun ketangguhan tim kembali diuji. Longsor yang terjadi di beberapa titik pengerasan menyebabkan tak bisanya rantelemo di tembus oleh kendaraan melalui jalan pengerasan. Situasi serba salah ini membuat tim kembali harus menempuh berkilo-kilo meter jauhnya tracking menuju rumah sopir yang akan mengantar tim pendakian kembali ke Makassar. Hingga pukul 18.00 seluruh anggota tim berhasil tiba di rumah pemukiman ramai penduduk tersebut dengan fisik yang sudah kedodoran. Nampak raut wajah bangga dan puas para anggota tim yang telah menyelesaikan pendakian itu.
Ialah puncak Rantemario yang menjadi target pendakian, berada pada ketinggian 3468Mdpl tentu dapat ditebak jalur menuju puncak tidak seenteng jogging yang menjadi latihan dasar sebelum mendaki. Terlebih status latimojong yang merupakan gunung tertinggi di Sulawesi kian merambah semangat para pemuda itu untuk bisa duduk di atas trangulasinya kelak. Tim pendakian dibekali GPS dan peta sebagai pedoman navigasi dan nyali menembus terjalnya jalur serta tajamnya dingin yang mengacaukan aliran darah.
Tim berangkat menuju Enrekang sekitar pukul 05.30 dengan menggunakan jasa mobil angkutan antar kota. Perjalanan diisi dengan beristirahat menutup kantuk yang tersisa sehabis packing semalaman. Tiba di Enrekang melewati pasar Baraka yang terkenal akan kopinya dan menuju polsek Baraka melapor kepada petugas setempat, sekedar pemberitahuan untuk mengantisipasi jika seandainya terjadi sesuatu di atas gunung nanti. Setelah memasukkan surat, kemudian tim menyempatkan berkunjung ke base camp KPA Lembayung yang berada tidak jauh di depan polsek Baraka. Namun tak ada seorang personil yang bisa menyambut tim, pasalnya mereka juga sedang mengantar tamu lain yang juga naik ke latimojong. Tim pun hanya berinisiatif mengisi buku tamu serta titipan salam untuk kawan-kawan KPA Lembayung,” Salam Lestari”, katanya.
Tim pendakian gunung Latimojong kemudian menerima tawaran dari sopir yang mengantar dari Makassar tadi untuk menunggu mobil menuju kampung ke kaki gunung di depan rumahnya sambil sedikit beristirahat disana. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 namun belum ada tanda-tanda akan adanya mobil yang bersedia mengantar tim. Hingga pukul 15.30 akhirnya sebuah truk pengangkut barang yang terlihat tak perkasa lagi bersedia mengantar tim namun tak mungkin sampai di Rantelemo, 2 desa terakhir menuju kaki gunung yang bisa diakses oleh mobil. Karena malas menghabiskan waktu menunggu lebih lama, tim harus naik ke truk tersebut.
Petualangan dimulai lebih awal, karena musim hujan membuat jalan pengerasan becek dan berlubang membuat mobil mirip kendaraan off-road. Tim yang dibuat tercegang menahan rasa was-was kian merapatkan pegangannya di tiang mobil, terlebih di sisi kanan ialah jurang yang menganga yang tak terlihat dasarnya. Kemiringan mobil juga mencapai 30 derajat kian mempercepat adrenalin yang dipacu 30 menit lamanya. Tim sempat terkesima melihat semangat nasionalisme anak-anak di desa itu, jalan yang berkubang serta terjal medan tak membuat mereka gentar untuk latihan baris-berbaris persiapan lomba tahunan nanti. Off-road terus berlanjut. Beberapa kali mobil tak mampu bergerak oleh licinnya jalanan yang mengubur roda-rodanya, membuat mobil terpaksa ditarik penumpang secara marathon. Sungguh sebuah awal perjalanan yang melelahkan.
Tim tiba di desa tujuan truk, desa Pasonken sekitar pukul 17.00. setelah melihat mepetnya waktu, tim melanjutkan perjalanan menuju planning camp di desa Pantelemo. Setelah berjalan hampir 2 jam lamanya, tim memutuskan untuk untuk camp di rumah penduduk pada pukul 19.30.
Perjalanan dilanjutkan pada pagi harinya, targetnya ialah pos 2 untuk hari ini. Masih melewati jalan berkubang serta track yang panjang dan mendaki cukup mempercepat nafas tim melaju. Tiba di desa rantelemo pukul 11.00 tim menempatkan beristirahat sejenak di rumah warga. Masih tersisa 2 kampung lagi menuju kaki gunung. Tim kemudian sampai di kampung terakhir, desa Karangan yang merupakan kampung terdekat dari kaki gunung. Tim makan siang di rumah penduduk dengan ransum sendiri seadanya yang dianggap berbobot untuk pasokan energi hingga petang nanti.
tim mulai masuk kaki gunung dengan energi baru dan semangat yang menggebu. Memacu langkah kaki menapaki tiap jengkal tanah secara cepat. Terdapat banyak celah sungai dan mata air di gerbang rimba juga medan yang belum terlalu terjal membuat perjalanan enteng. Hingga tiba di pendakian terjal pertama yang cukup licin dan setapak langkah, tim mulai mengatur formasi jalan dari leader hingga sweeper. Tak banyak cerita yang bisa dikisahkan dalam perjalanan kali ini, hanya lebatnya hutan tertutup dan pohon berlumut yang mendominasi pandangan mata. Pos 1 di jumpai di titik landai lainnya tidak terlalu luas namun cukup untuk 2 tenda dan tak ada sumber air.
Tak banyak waktu yang digunakan beristirahat di pos 1, tim hanya menyempatkan mendata camp dan meneguk air lalu melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju pos 2 dilanjutkan sudah masuk sore hari, kian memaksa tim untuk lebih mempercepat langkahnya. Tak jauh berbeda dengan keadaan jalur dari pos 1 tadi, jalan licin dan setapak yang cukup menyulitkan tapi tak membuat gentar para pendaki ini untuk berdiri di tempat tertinggi di Sulawesi. Jurang-jurang yang cukup besar juga cukup mengancam langkah tim untuk lebih berhati-hati, tiap saat longsor bisa saja terjadi mengingat hujan yang mengguyur membuat tanah menjadi lembek dan pohon tak lagi kuat berpegang pada tanah.
Beberapa kali tim menyempatkan untuk beristirahat menarik nafas sejenak di tempat-tempat memungkinkan untuk duduk. Pasalnya sangat jarang ditemui tempat-tempat landai, luas dan terbuka di jalur ini. Track up dan track down sering dijumpai sambil menyisir punggungan di bekali pegangan akar dan tumbuhan liar sebagai pegangan. Vegetasi liarnya juga tak banyak menampilkan tumbuhan konsumtif dan sukar dikenali.
Setelah berjalan kosong beberapa lama, terdengarlah arus sungai yang deras yang meandakan pos 2 sudah tak jauh lagi. Tinggal menyusuri pinggiran sungai dari punggungan gunung yang sedikit menurun menuju dasar aliran sungai. Tim tiba di pos 2 sebagai target hari itu pada pukul 17.30 dengan keadaan masih fit dan semangat walau sedikit agak lelah menembus panjang track dari kampung hingga pos 2 ini.
Keadaan di pos 2 lumayan nyaman, berada di shelter pinggir sungai aliran deras cukup untuk 2-3 tenda. Terlebih lagi terdapat tempat landai lain di bagian bawah yang cukup luas dan nyaman. Sumber air jelas berada dekat dengan camp, airnya juga segar, dingin dan murni. Namun sayang camp terlihat tak terawat karena banyaknya tumpukan sampah non-organik berupa kaleng, botol, plastik dan cat mengotori dinding shelter yang mengurangi wajah alami pos 2 itu. Terpaksa tim bekerja ekstra sebagai Mahasiswa Pecinta Alam yang menjunjung tinggi Kode Etik Pecinta Alam untuk membersihkan camp tersebut sebagai bukti tanggung jawab akan loyalitas terhadap janji kepada lembaga dan ciptaan Tuhan yang Maha Besar.
Setelah beristirahat dan membersihkan camp pada camp bagian bawah lalu ditimbun, secara gotong royong tim membagi tugas untuk kegiatan malam itu. Mulai dari juru masak, mendirikan tenda dan cuci ransum. Suara aliran sungai yang cukup deras menbuat tim berkomunikasi dengan suara agak keras, terlebih jarak dengan sungai hanya beberapa meter di depan camp. Setalah makan malam tim kemudian beristirahat mempersiapkan perjalanan besok yang tak kalah serunya.
Dingin angin yang menembus sleeping Bag membuat tim bangun lebih awal subuh itu. Sambil menghangatkan air membuat kopi pengahangat badan, tim juga mulai mem-packing barang dan membongkar tenda. Setelah sarapan roti dan mengisi jeregen di sungai, tim pun melanjutkan perjalanan menuju pos 5. Maklum, dari beberapa sumber mengatakan tak ada lagi sumber air di pos berikutnya hingga pos 5, itu pun berada jauh dari camp berjarak hampir 1 kilo. Maka tim antisipatif dengan menyiapkan 2 jeregen kapasitas 5 liter sekaligus terisi penuh.
Jalus akses pada medan kali ini terbilang cukup sulit karena habis longsor. Tanah retak dan banyaknya pohon tumbang menjadi kendala untuk berjalan lebih cepat. Terlebih lagi jalur yang lebih panjang ditempuh sekitar 2 jam penuh. Beruntung cuaca yang sedikit lebih bersahabat yang tidak terlalu mengguyur Latimojong dengan deras dan kondisi tim yang masih prima sehabis istirahat semalaman dan sarapan pagi tadi. Medan menanjak curam sesekali menantang tim untuk melangkah ekstra hati-hati, melihat bebatuan yang mudah lepas membahayakan anggota tim yang berjalan di belakang. Belum lagi pegangan akar dan dahan yang rapuh sempat menghentak beberapa anggota tim terperosok. Beruntung hingga pos berikutnya tak terjadi cedera berarti.
Pos 3 berhasil di capai tim setelah berjalan sekitar hampir 2 jam. Keadaan pos sendiri tidak cukup baik untuk mendirikan camp. Keadaan medan yang tidak landai dan tidak cukup luas hanya bisa dijadikan tempat istirahat saja. Tim menyempatkan menghabisi 1-2 batang rokok tentu saja sambil mendata pos. setelah beristirahat cukup lama dan menuntaskan pendataan, perjalanan dilanjutkan menuju pos 4. Medan yang dilalui mulai berubah di jalur ini. Jika jalur pos 1 ke 2 dan 2 ke 3 dilalui dengan menyisir punggungan, jalur pos 3 ke 4 malah lebih banyak mendaki dengan pemandangan terbuka dan dingin lebih terasa. Kecepatan langkah juga sudah bisa diatur meskipun nafas yang sesekali kedodoran membuat tim singgah mengirup 3-5 tarikan nafas menghela detakan jantung.
Nikmatnya view dijalur itu membuat tim merasa enjoy dan tak menyangka sudah tiba di pos 4. Keadaan di pos itu agak terbuka, bisa didirikan camp, agak landai meski beralaskan batu yang tidak rata, namun tak ada sumber air. Jarak ke pos 4 kurang lebih 0,6 km atau waktu tempuh normal 1 jam. Tim kemudian tak mau berlama-lama mengabiskan waktu di pos itu, melihat pos 5 yang menjadi camp untuk hari itu sudah dekat. Perjalanan yang dilanjutkan dengan masih diiringi semangat dan fisik yang mulai goyang karena menerobos 3 pos sekaligus dalam waktu singkat sekitar 3 jam. Perjalanan tak jauh berbeda dengna jalur sebelumnya. Menanjak, terjal dan panjang.
Hingga tiba di pos 5 sekitar pukul 12.00, terlihat beberpa tenda telah berdiri namun tak berpenghuni. Mungkin pendaki lain punya planning yang sama dengan tim. Yaitu camp di pos 5 lalu ke puncak agar lebih enteng tanpa membawa carrier. Pasalnya musim hujan membuat repot jika camp di pos 7 yang terbuka dan suhu yang ekstrim. Tim mulai memasang flysheet sebagai tembat bernaung berhubung hujan mengguyur sejak pagi tadi. Sembari mempersiapkan misting, trangia dan kompor portable untuk masak makan siang. Tak lama berselang, 2 penghuni camp sebelumnya dari salah satu KPA Makassar lebih dahulu turun dan menyapa tim dengan salam khasnya. Tim kemudian menyuguhkan kopi hangat dan makanan seadannya karena mereka akan segera turun melihat masih cukup banyak waktu untuk tiba di Karangan.
Keadaan pos 5 sendiri cukup luas, sangat nyaman untuk camp. Lokasinya tertutup dengan sedikit salah satu sudut yang menyajikan view terbuka. Cukup untuk 5-7 tenda. Terdapat sumber air, namun dengan jarak tempuh yang cukup jauh ke sebelah kiri bawah camp. Tim yang masih menyisakan 2 jeregen air dari pos 2, dan hasil air tampungan dari hujan membuat tim tak perlu repot mengambil air.
Hingga pada sore harinya, Mapala lain dari Mahadipa STMIK Dipanegara yang juga mengantar Mapala dari Manado tiba di pos 5 setelah di guyur hujan ketika di puncak. Terjalin keakraban yang lebih terasa berhubung beberapa anggota tim sudah saling kenal. Tak perlu saling sungkan untuk saling bercanda, menawari rokok dan kopi serta cemilan. Hingga malam tiba ketika sudah bosan berlama-lama beristirahat selama stengah hari penuh, tim kemudian beristirahat lebih cepat untuk menghangatkan badan yang diiris dingin serta hujan malam itu di Latimojong.
Pagi tiba, namun cuaca kurang bersahabat. Hujan masih mengguyur membuat tim berpikir untuk tembus ke puncak. Karena tak ada tanda-tanda akan redanya hujan, maka pada pukul 08.00 tim mengambil resiko untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga top destinasi. Bermodalkan semangat dan mental yang masih prima, seluruh anggota tim tak terlihat gentar sedikitpun.
Seperti biasa, sebelum melanjutkan perjalanan, doa bersama dipimpin oleh panglima operasi. Memohon perlindungan kepadaNya serta mensyukuri nikmat hari ini dariNya. Medan yang semakin licin dan terjal kian mendramatisir panjangnya cerita di jalur itu. Tak ada bonus yang diberikan, hanya tempat bijakan berdiri yang tersaji. Suhu dingin yang menusuk kian membuat nafas tiap anggota semakin pendek. Lelah dan jantung berdetak lebih kencang seperti gendering mau perang, akibat tipisnya oksigen di ketinggian 2800Mdpl itu. Ketangguhan tim kembali di uji dengan melewati jalur setapak yang berair mengalir, tak pelak tim perlu memperhatikan tiap langkahnya memastikan pijakannya aman.
Tiba di pos 6 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam adalah waktu yang dirasa maksimal tanpa beban carrier yang sengaja di tinggal di pos 5. Keadaan pos 6 agak terbuka, tidak cukup luas namun landai. Tak tahan oleh dingin di pos 6 membuat tim harus bergegas. Langkah menjadi makin lambat oleh makin turunnya suhu dan seiring derasnya hujan yang sempat membuat tim singgah lebih banyak untuk menarik nafas sejenak. Tiba di pos 7 setelah berjalan selama 1 jam lebih. Jarak memang tak terlalu panjang namun nafas yang mulai terbata-bata menyulitkan tim untuk tiba lebih cepat. Di pos 7 tim mengambil inisiatif untuk makan siang sambil menghangatkan badan. 2 misting nasi dan 2 bungkus mie instan cukup menanbah sedikit energi untuk ke puncak. Tak mau berlama-lama tertusuk dingin, tim menyegerakan langkah menuju pos akhir, puncak Rantemario.
Keadaan di pos 7 sendiri lebih terbuka. Untuk keadaan saat itu, cukup ekstrim jika ingin camp di pos 7 dengan cuaca hujan. Dinginnya suhu menjadi kendala utama, membuat suara terbata-bata untuk berkata.
Perjalanan dilanjutkan menanjaki terjal medan. Kali ini perjalanan terasa begitu panjang dan cukup menbuat tim mulai kehabisan nafas. Namun medan yang sudah agak landai memnjadi bonus tersendiri bagi pendaki. Terlihat panorama alam yang luar biasa sepanjang perjalanan. Danau alami yang terbentuk dan batuan putih mengantar menuju puncak.
Tim tiba di trangulasi dengan tidak cukup beruntung. Keadaan di puncak tertutup kabut serta hujan menambah ekstrimnya suhu mendekati 0o celcius. Setelah mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama, panglima operasi selaku pengambil keputusan memutuskan untuk kembali berhubung suhu dan udara yang semakin menipis tidak memungkinkan untuk tinggal lebih lama. Perjalanan kembali tak semudah yang diperkirakan. Jalur licin kerap kali membuat anggota tim jatuh bangun. Namun semua terbayar oleh rasa puas dan gembira yang tak terbahasakan setelah berdiri di atap Sulawesi.
Setibanya di pos 5, Tim kemudian mengambil langkah taktis untuk segera packing karena masih cukup waktu untuk tiba di kaki gunung dengan resiko jalan malam. Tim mulai bergerak turun pada pukul 14.00 dan tiba di pemukiman warga sekitar pukul 19.00 di kampung Karangan. Keadaan tim yang sudah all-out benar-benar terkuras habis setelah menghabiskan 1 jalur turun dalam sehari dengan keadaan medan yang parah akibat longsor.
Pagi harinya tim pamit kepada tuan rumah dan bertewrimakasih atas tumpangannya serta melanjutkan perjalanan ke rantelemo untuk menunggu mobil yang akan mengantar tim kembali keluar dari kampung. Namun ketangguhan tim kembali diuji. Longsor yang terjadi di beberapa titik pengerasan menyebabkan tak bisanya rantelemo di tembus oleh kendaraan melalui jalan pengerasan. Situasi serba salah ini membuat tim kembali harus menempuh berkilo-kilo meter jauhnya tracking menuju rumah sopir yang akan mengantar tim pendakian kembali ke Makassar. Hingga pukul 18.00 seluruh anggota tim berhasil tiba di rumah pemukiman ramai penduduk tersebut dengan fisik yang sudah kedodoran. Nampak raut wajah bangga dan puas para anggota tim yang telah menyelesaikan pendakian itu.
malam, hitam dan kawan..
Malam, semua hitam, sudah sepi. Sudah aman untuk menulis, otak yang biasa saya gunakan untuk berfikir sudah bisa digunakan untuk berimajinasi. Suasana hening begini saya paling suka menghayal sambil menunggu datangnya gejala yang bikin saya tidur dan klo beruntung bisa mimpi naik haji. Tapi malam ini, duduk di ruang isolasi, tanpa penerangan hanya ada dentuman bass dari musik metal favorit mengamuk dari speaker mono yang woofer nya sudah pecah. Mengantar akselerasi emosi lebih kencang karena tidak ada rokok, tidak membuat saya merasa lebih baik.
Tak ada cerita spesial untuk hari ini, tak ada kisah cinta, postulat, puisi atau simpony yang lahir dari majemuk waktu sepanjang 18 jam tadi. Memang setiap hari seperti itu. Kecuali untuk malam singkat yang hampir tiap hari, bertemu anak muda di pinggir jalan, menghabiskan batas malam dengan berbagai kegiatan yang tidak jelas. Tertawa sampai kejang-kejang, jarang bercerita tentang politik apalagi sok nasionalis, menganiyaya satu sama lain dan yang paling dihindari, curhat!
Memang tak ada aktifitas lain yang representatif untuk dilakukan setelah melewati hari-hari membosankan tadi, tak ada yang lebih menyenangkan selain malam, tak ada yang lebih bebas selain bersama kawan. Tak punya lawan, tertawa adalah santapan. Malam terasa keji jika tanpa mereka yang tidak berwibawa tapi paling merdeka diantara yang muda.
Namun semua sama-sama tahu jika hari-hari mereka tak sesenang dan setenang itu. Semua punya beban pikiran, ironi, sandungan dan pukulan jiwa masing-masing. Tapi komitmen yang menguatkan untuk tetap senang, tangisan dan keluhan kita sadari tak membawa perubahan. Semua sama-sama menang, kita terus saja tenang. Tidak usah berlagak manis di depan kami yang bengis karena aransemen mu itu sudah terbaca, kawan. kita sama-sama sudah tahu, kita bukan orang yang terang, kita orang malam yang berkawan bulan dan bintang.
Ku rindukan malam esok yang lebih gelap, ku nantikan pesta kita yang menenggelamkan siang. Ku bayar malam berikutnya dengan janji tak akan menjadi dewasa karena dewasa katanya adalah dimana orang akan bijaksana dan berfikir. Kita butuh malam yang lebih panjang, kawan!
Tak ada cerita spesial untuk hari ini, tak ada kisah cinta, postulat, puisi atau simpony yang lahir dari majemuk waktu sepanjang 18 jam tadi. Memang setiap hari seperti itu. Kecuali untuk malam singkat yang hampir tiap hari, bertemu anak muda di pinggir jalan, menghabiskan batas malam dengan berbagai kegiatan yang tidak jelas. Tertawa sampai kejang-kejang, jarang bercerita tentang politik apalagi sok nasionalis, menganiyaya satu sama lain dan yang paling dihindari, curhat!
Memang tak ada aktifitas lain yang representatif untuk dilakukan setelah melewati hari-hari membosankan tadi, tak ada yang lebih menyenangkan selain malam, tak ada yang lebih bebas selain bersama kawan. Tak punya lawan, tertawa adalah santapan. Malam terasa keji jika tanpa mereka yang tidak berwibawa tapi paling merdeka diantara yang muda.
Namun semua sama-sama tahu jika hari-hari mereka tak sesenang dan setenang itu. Semua punya beban pikiran, ironi, sandungan dan pukulan jiwa masing-masing. Tapi komitmen yang menguatkan untuk tetap senang, tangisan dan keluhan kita sadari tak membawa perubahan. Semua sama-sama menang, kita terus saja tenang. Tidak usah berlagak manis di depan kami yang bengis karena aransemen mu itu sudah terbaca, kawan. kita sama-sama sudah tahu, kita bukan orang yang terang, kita orang malam yang berkawan bulan dan bintang.
Ku rindukan malam esok yang lebih gelap, ku nantikan pesta kita yang menenggelamkan siang. Ku bayar malam berikutnya dengan janji tak akan menjadi dewasa karena dewasa katanya adalah dimana orang akan bijaksana dan berfikir. Kita butuh malam yang lebih panjang, kawan!
sambarang..
Wah....tidak terasa hari ini sudah tanggal 25 juli 2010,padahal kemarin baru saja saya rasa tanggal 26 juli 2010,but its okay saya bisa terima dengan keadaan itu.
you know...hari ini sangat cerah,dimana pagi hari saat saya bangun di sinari oleh sinar matahari yang sangat menyegarkan seakan membakar semangat untuk bekerja keras menggerakkan tubuh memulihkan sendi sendi yang telah kaku oleh dinginnya mountea tadi subuh.
bangun pagi sekitar jam 10 saya langsung bergegas menuju dispenser air minum untuk meneggak segelas air namun tanpa disadari galon air saya telah kosong ...oh my god i have to full filled that shit...langsung meluncur aku ke tempat penyulingan air,deh mahalnya airnya 6rb rupiah cak.tapi biarlah ndak masalah sudah begitulah kehidupan,kadang kita harus menerima hal hal walaupun itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.setelah mengisi ulang air galonku,di depan rumah saya melihat sebuah motor terparkir dengan bodynya yang agak kotor nan bercampur lumpur,oh my lord ternyata motorku,yang dipakai kemarin hari berhujan hujanan menemani teman pria ku. sekarang terlihat sangat lusuh berlumur lumpur,saya segera berinisiatif untuk mengambil selang yang tergeletak begitu saja di taman rumah dan membuka keran lalu meluncurlah air yang deras dari ujung selang yang membuka harapanku akan motor yang sebentar lagi akan terlihat cling dan mantap.
dengan sangat hati hati saya pindahkan motor itu karena takut kotoran yang berada disekitar bannya akan berpindah ke jemari indahku ini (taibaro) jan terlalu cowok.deh sunna'...kaya apa tong suruhmi pulang saja jami repot repot masukki ...
well...motor telah dicuci dan memang keliatan sangat bersih,apalagi jika saya menunggangi motor tersebut akan semakin terlihat keren motornya dengan gantengnya wajahku(taibaro cukka ulu)...sejenak sebelum naik ke kamar saya pandangi motor tersebut dengan harapan harapan besar suatu saat nanti saya akan membeli sebuah mobil baru...kkkkkk....tidak nyambung kliatannya ini...
lanjut ke kamarku saya langsung menggapai handuk yang terjemur di hangger depan kamar mandi,kakakku juga mau masuk kamar mandi,di mau berak tapi saya tahan saya bilang kalau saya sudah terlambat masuk kuliah,memang benar karena waktu sudah menunjukkan jam 10.15 pagi...
setelah mandi...kemudian berdandan lalu memilih pakean yang cocok n serasi and related to each other..ah...finally proses pemakaian telah selasai.saatnya ngampus.
kukeluarkan motorku dari pagar besi yang cukup besar yang cukup sulit untuk dibuka.sekarang saya dijalan n ngebut (temanku bilang bahasa manadonya 'cakar') wah padahal kalau di makassar 'cakar' itu berarti 'secondhand' atau 'RB' atau bekas pakai yang banyak ditemukan seperti pusat cakar depan mari.,DAIMARU,pasar DAYA dan masih banyak lagi.wah kamu ndak nyambung,tapi sudahlah ndak usah di permasalahkan,semuanya sudah jelas.lanjut saya kan tadi lagi dijalan..eh saya lupa bilang kalau saya membawa 3 kilo pakjean kotor untuk dibawa ke londry,saya sekarang singgah di londry..deh sunna' katanya 4 hari pi baru selesai karena musim hujan...tapi ah nda masalah daripada cuci sendiri nda kering kering belum lagi kalau di teror ki sama penjahat di jemuran... okay sekarang saya menuju kampus..pada baris berikutnya akan diceritakan bagaimana saya setelah tiba di kampus.
well,saya tiba dikampus dengan semangat yang penuh dari harapan dan impian akan masa depan yang cerah serta kehidupan penuh persaingan yang akan saya jalani denagn pasti dan penuh percaya diri.masuk di kelas ternyata saya sudah terlambat 15 menit,tapi ibu dosen menanggapinya biasa saja ,mungkin karena dianya juga yang sering terlambat.setelah kelas selesai saya jatuh lapar,well sekarang kita menuju kantin,,ada dua kantin yang sering saya kunjungi ada kantin kolong sastra dan sana-sana nya sedikit kolong sastra.kalau lagi lapar berat,biasanya saya memilih ke kolong sastra, namanya juga kantin kolong jadi harga makanan disana serba bolong. kalau ndak percaya datang saja biar nanti saya traktir.of course hanya bagi yang mau menyempatkan diri membaca tulisan ini yang saya traktir yah...
stop cerita di kampus...sudah tidak asik lagi...sudah ngantuk berat.
okay..eh lupa tadi saya sms si anu...saya bilang 'sepertinya cuaca hari ini cerah ya' (sekedar untuk mengigatkan pertemuan kita yang kemarin tidak jadi yang diakibatkan oleh hujan deras sekali) ...alhamdullillah di balas dan setelah kuliah dia menyuruhku untuk datang langsung menuju ke TKP.
ternyata jam kuliahku sedikit lebih cepat because dosen jam terakhir yang ngajar lagi di Australia.wah mantap (btw akhir juni saya mau ke AUSTRALIA,siapa tau ada yang mau titip oleh olehj ,atau ada yang mau ikut,hubungi saya saja).well kembali ke masalah yang tadi,pulang kampus saya sempat bertemu kawan kwan dan membahas apa yang terjadi selama ini.ah ndak penting tapi cukup menyita waktu,setelah beberapa saat saya langsung menuju ke TKP dan bertemu dia disana..kami langsung melihat beberapa barang, dan menyelidiki kasus ini. kenapa ada kasus lagi? aduuhh..
oakay lanjut kita kemudian pergi ke kampusnya dia untuk minum kopi toraja, tapi di saat kopi nya masih panas membara si teman itu di telpon sama dosen wanitanya yang cewek disuruh ke kelas ada final tiba-tiba... wah jadi ngak enak,,tapi ah santai saja...
eh malah dapat sms dari si "CK", sebut saja "bunga, (20 Tahun)" katanya mau ketemuan ni hari..yah gue kan capek banget tuh malah ngantuk.kuputuskan ketemuannya besok aja deh...
kalau si CK tampaknya orangnya baik n tidak sombong..tapi masalahnya dia terlalu banyak mengenal orang orang yang saya kenal.saya tidak ingin mengecewakan mereka...
terlebih lagi saya punya 2 orang kakak yang kerja di 2 tempat yang berbeda..
ah...saya sudah pusing sampai dimana ini cerita...oh akhirnya saya habiskan kopi dan minta di bungkuskan ampasnya di pake begadang nanti malam dan langsung cabut ke rumah..
di rumah saya melihat sepasang sepatu yang merupakan sepatuku yang ke3marin habis dipake hujan hujanan yang di jemur di ujung jendaela..ku ambil sepatui itu tapi sayang nya seblah nya jatuh di bawah beranda rumah...wah susah ambilnya...kalau saya keluar buat ngambil itu bisa bisa jadi malu sama penduduk sebelah sebab pastinya mereka akan menertawai keanehan yang terjadi padaku...
ah tapi biasaji...bentar aja kalau semua orang dah pada tidur. mudah mudahan tidak adaji yang ambil itu pasangannya sepatu atau tidak adaji juga yang bertanya"siapa yang punya sepatu itu?" ....ah sambil menunngu orang orang yang di ruang tengah pergi saya buka fesbuk dulu..tapi tampaknya saya sedikit bosan.finally ku buka blog ku dan menuliskan beberapa kalimat yazng sangat menyentuh ini diiringi tetesan air mata...
bye..
keep ourself from drugs n narcotics.stay current away from that shit and enjoy your life.. bravo sepak bola indonesia!
you know...hari ini sangat cerah,dimana pagi hari saat saya bangun di sinari oleh sinar matahari yang sangat menyegarkan seakan membakar semangat untuk bekerja keras menggerakkan tubuh memulihkan sendi sendi yang telah kaku oleh dinginnya mountea tadi subuh.
bangun pagi sekitar jam 10 saya langsung bergegas menuju dispenser air minum untuk meneggak segelas air namun tanpa disadari galon air saya telah kosong ...oh my god i have to full filled that shit...langsung meluncur aku ke tempat penyulingan air,deh mahalnya airnya 6rb rupiah cak.tapi biarlah ndak masalah sudah begitulah kehidupan,kadang kita harus menerima hal hal walaupun itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.setelah mengisi ulang air galonku,di depan rumah saya melihat sebuah motor terparkir dengan bodynya yang agak kotor nan bercampur lumpur,oh my lord ternyata motorku,yang dipakai kemarin hari berhujan hujanan menemani teman pria ku. sekarang terlihat sangat lusuh berlumur lumpur,saya segera berinisiatif untuk mengambil selang yang tergeletak begitu saja di taman rumah dan membuka keran lalu meluncurlah air yang deras dari ujung selang yang membuka harapanku akan motor yang sebentar lagi akan terlihat cling dan mantap.
dengan sangat hati hati saya pindahkan motor itu karena takut kotoran yang berada disekitar bannya akan berpindah ke jemari indahku ini (taibaro) jan terlalu cowok.deh sunna'...kaya apa tong suruhmi pulang saja jami repot repot masukki ...
well...motor telah dicuci dan memang keliatan sangat bersih,apalagi jika saya menunggangi motor tersebut akan semakin terlihat keren motornya dengan gantengnya wajahku(taibaro cukka ulu)...sejenak sebelum naik ke kamar saya pandangi motor tersebut dengan harapan harapan besar suatu saat nanti saya akan membeli sebuah mobil baru...kkkkkk....tidak nyambung kliatannya ini...
lanjut ke kamarku saya langsung menggapai handuk yang terjemur di hangger depan kamar mandi,kakakku juga mau masuk kamar mandi,di mau berak tapi saya tahan saya bilang kalau saya sudah terlambat masuk kuliah,memang benar karena waktu sudah menunjukkan jam 10.15 pagi...
setelah mandi...kemudian berdandan lalu memilih pakean yang cocok n serasi and related to each other..ah...finally proses pemakaian telah selasai.saatnya ngampus.
kukeluarkan motorku dari pagar besi yang cukup besar yang cukup sulit untuk dibuka.sekarang saya dijalan n ngebut (temanku bilang bahasa manadonya 'cakar') wah padahal kalau di makassar 'cakar' itu berarti 'secondhand' atau 'RB' atau bekas pakai yang banyak ditemukan seperti pusat cakar depan mari.,DAIMARU,pasar DAYA dan masih banyak lagi.wah kamu ndak nyambung,tapi sudahlah ndak usah di permasalahkan,semuanya sudah jelas.lanjut saya kan tadi lagi dijalan..eh saya lupa bilang kalau saya membawa 3 kilo pakjean kotor untuk dibawa ke londry,saya sekarang singgah di londry..deh sunna' katanya 4 hari pi baru selesai karena musim hujan...tapi ah nda masalah daripada cuci sendiri nda kering kering belum lagi kalau di teror ki sama penjahat di jemuran... okay sekarang saya menuju kampus..pada baris berikutnya akan diceritakan bagaimana saya setelah tiba di kampus.
well,saya tiba dikampus dengan semangat yang penuh dari harapan dan impian akan masa depan yang cerah serta kehidupan penuh persaingan yang akan saya jalani denagn pasti dan penuh percaya diri.masuk di kelas ternyata saya sudah terlambat 15 menit,tapi ibu dosen menanggapinya biasa saja ,mungkin karena dianya juga yang sering terlambat.setelah kelas selesai saya jatuh lapar,well sekarang kita menuju kantin,,ada dua kantin yang sering saya kunjungi ada kantin kolong sastra dan sana-sana nya sedikit kolong sastra.kalau lagi lapar berat,biasanya saya memilih ke kolong sastra, namanya juga kantin kolong jadi harga makanan disana serba bolong. kalau ndak percaya datang saja biar nanti saya traktir.of course hanya bagi yang mau menyempatkan diri membaca tulisan ini yang saya traktir yah...
stop cerita di kampus...sudah tidak asik lagi...sudah ngantuk berat.
okay..eh lupa tadi saya sms si anu...saya bilang 'sepertinya cuaca hari ini cerah ya' (sekedar untuk mengigatkan pertemuan kita yang kemarin tidak jadi yang diakibatkan oleh hujan deras sekali) ...alhamdullillah di balas dan setelah kuliah dia menyuruhku untuk datang langsung menuju ke TKP.
ternyata jam kuliahku sedikit lebih cepat because dosen jam terakhir yang ngajar lagi di Australia.wah mantap (btw akhir juni saya mau ke AUSTRALIA,siapa tau ada yang mau titip oleh olehj ,atau ada yang mau ikut,hubungi saya saja).well kembali ke masalah yang tadi,pulang kampus saya sempat bertemu kawan kwan dan membahas apa yang terjadi selama ini.ah ndak penting tapi cukup menyita waktu,setelah beberapa saat saya langsung menuju ke TKP dan bertemu dia disana..kami langsung melihat beberapa barang, dan menyelidiki kasus ini. kenapa ada kasus lagi? aduuhh..
oakay lanjut kita kemudian pergi ke kampusnya dia untuk minum kopi toraja, tapi di saat kopi nya masih panas membara si teman itu di telpon sama dosen wanitanya yang cewek disuruh ke kelas ada final tiba-tiba... wah jadi ngak enak,,tapi ah santai saja...
eh malah dapat sms dari si "CK", sebut saja "bunga, (20 Tahun)" katanya mau ketemuan ni hari..yah gue kan capek banget tuh malah ngantuk.kuputuskan ketemuannya besok aja deh...
kalau si CK tampaknya orangnya baik n tidak sombong..tapi masalahnya dia terlalu banyak mengenal orang orang yang saya kenal.saya tidak ingin mengecewakan mereka...
terlebih lagi saya punya 2 orang kakak yang kerja di 2 tempat yang berbeda..
ah...saya sudah pusing sampai dimana ini cerita...oh akhirnya saya habiskan kopi dan minta di bungkuskan ampasnya di pake begadang nanti malam dan langsung cabut ke rumah..
di rumah saya melihat sepasang sepatu yang merupakan sepatuku yang ke3marin habis dipake hujan hujanan yang di jemur di ujung jendaela..ku ambil sepatui itu tapi sayang nya seblah nya jatuh di bawah beranda rumah...wah susah ambilnya...kalau saya keluar buat ngambil itu bisa bisa jadi malu sama penduduk sebelah sebab pastinya mereka akan menertawai keanehan yang terjadi padaku...
ah tapi biasaji...bentar aja kalau semua orang dah pada tidur. mudah mudahan tidak adaji yang ambil itu pasangannya sepatu atau tidak adaji juga yang bertanya"siapa yang punya sepatu itu?" ....ah sambil menunngu orang orang yang di ruang tengah pergi saya buka fesbuk dulu..tapi tampaknya saya sedikit bosan.finally ku buka blog ku dan menuliskan beberapa kalimat yazng sangat menyentuh ini diiringi tetesan air mata...
bye..
keep ourself from drugs n narcotics.stay current away from that shit and enjoy your life.. bravo sepak bola indonesia!
mitos 666, angka andalan ka inee..
Sebagian besar masyarakat Islam meyakini bahwa ayat al Quran berjumlah 6666. meski sumber yang mengatakan itu, hadist, tarikh (sejarah), dan sebaginya, sampai sekarang sulit terlacak. Namun, keyakinan tersebut sudah begitu kuat mendarah daging. Sampai-sampai, untuk menyoal ulang pun kita akan dituduh dengan berbagai label; sesat, murtad, atau sekurang-kurangnya Bani Israil (suka mendebat).
Dalam buku “Benarkah Jumlah Ayat al Quran 6666?” seorang penulis menemukan bahwa sebetulnya seluruh ayat al Quran berjumlah 6236. Dalam sejarah Islam, perdebatan masalah angka ini juga sudah terjadi sejak dulu.
Menurut Nafi’ jumlah ayat al Quran tepatnya adalah 6.217. Sedangkan Syaibah, menyatakan 6214 ayat. Abu Jafar, menemukan 6.210 ayat. Ketiga-tiganya ulama asal Madinah. Berbeda dengan itu, menurut Ibnu Katsir, ulama Makkah, mengatakan jumlahnya 6.220 ayat. ‘Ashim, ulama Basrah, mengatakan bahwa jumlahnya 6205 ayat. Sedangkan Hamzah yang berasal dari Kufah mengatakan bahwa jumlahnya 6.236 ayat.
Perbedaan penghitungan ini berangkat dari masalah kaidah perhentian (ahkamul auqaf – hukum-hukum penghentian bacaan) dalam pelafalan ayat. Selain itu masalah kalimat, “Bismillahiraahmanirrahim”, ada yang memasukkannya sebagai ayat dan ada yang tidak, dan alasan-alasan lain yang mendasarinya. Namun, yang perlu dicatat tidak ada yang menghitung dengan kesimpulan 6666.
Melalui sumber tertentu, “Pseudomania Daemonum”, mitos 6666 kita ketahui merupakan mitos abad ke-16. Yang mungkin saja mitos tersebut tersisip ke dalam sejarah Islam. Dalam buku itu dijelaskan bahwa iblis mengeluarkan pasukan sebanyak enam legiun. Satu legiun terdiri dari 66 kelompok. Satu kelompok terdiri dari 666 rombongan. Dan dalam satu rombongan terdiri dari 6666 bala tentara iblis. Bagi yang gemar teori konspirasi, akan membaca bahwa hal ini merupakan ulah dari “musuh” dalam rangka mengacaukan pemahaman Islam dari dalam.
Kalau mengacu pada Hamzah, maka ada selisih angka 430 antara 6666 dengan 6236. tidak jelas sumbernya, tapi ada yang menafsirkan bahwa angka 430 itu merupakan metafora dari sosok Nabi Muhammad. Lafadl atau kata Muhammad tersusun dari huruf, “mim”, “ha”, “mim”, dan “dal”. Masing-masing huruf ini berfungsi sebagai indeks, sebagai berikut;
Mim huruf hijaiyah ke 24, surat ke 24 adalah An Nuur berjumlah 64 ayat;
Ha huruf hijaiyah ke 6, surat ke 6 adalah al An’am berjumlah 165 ayat;
Mim huruf hijaiyah ke 24, surat ke 24 adalah An Nuur berjumlah 64 ayat;
Dal huruf hujaiyah ke 8, surat ke 8 adalah al Anfaal berjumlah 75 ayat.
Dengan menjumlah nomor urut surat dan total seluruh ayat, (24+64+6+165+24+64+8+75), akan kita peroleh angka 430.
Hasil olah ini merupakan kebetulan yang ajaib. Yakni, para pendukungnya mencoba mengkaitkan dengan teks yang menyatakan bahwa umat Islam harus berpegang teguh pada dua hal; al Quran (6236) dan al Hadist (430). Dimana kita ketahui bahwa hadist merupakan ucapan, tindakan dan penetapan Nabi Muhammad.
Baik versi konspiratif atau elaboratif-metaforis, yakni versi Hamzah dan ulama yang tersebut di atas, 6236 atau lainnya. Artinya angka 6666 tidak berkorespondensi dengan seluruh ayat al Quran.
*Di sari dari berbagai sumber..
Dalam buku “Benarkah Jumlah Ayat al Quran 6666?” seorang penulis menemukan bahwa sebetulnya seluruh ayat al Quran berjumlah 6236. Dalam sejarah Islam, perdebatan masalah angka ini juga sudah terjadi sejak dulu.
Menurut Nafi’ jumlah ayat al Quran tepatnya adalah 6.217. Sedangkan Syaibah, menyatakan 6214 ayat. Abu Jafar, menemukan 6.210 ayat. Ketiga-tiganya ulama asal Madinah. Berbeda dengan itu, menurut Ibnu Katsir, ulama Makkah, mengatakan jumlahnya 6.220 ayat. ‘Ashim, ulama Basrah, mengatakan bahwa jumlahnya 6205 ayat. Sedangkan Hamzah yang berasal dari Kufah mengatakan bahwa jumlahnya 6.236 ayat.
Perbedaan penghitungan ini berangkat dari masalah kaidah perhentian (ahkamul auqaf – hukum-hukum penghentian bacaan) dalam pelafalan ayat. Selain itu masalah kalimat, “Bismillahiraahmanirrahim”, ada yang memasukkannya sebagai ayat dan ada yang tidak, dan alasan-alasan lain yang mendasarinya. Namun, yang perlu dicatat tidak ada yang menghitung dengan kesimpulan 6666.
Melalui sumber tertentu, “Pseudomania Daemonum”, mitos 6666 kita ketahui merupakan mitos abad ke-16. Yang mungkin saja mitos tersebut tersisip ke dalam sejarah Islam. Dalam buku itu dijelaskan bahwa iblis mengeluarkan pasukan sebanyak enam legiun. Satu legiun terdiri dari 66 kelompok. Satu kelompok terdiri dari 666 rombongan. Dan dalam satu rombongan terdiri dari 6666 bala tentara iblis. Bagi yang gemar teori konspirasi, akan membaca bahwa hal ini merupakan ulah dari “musuh” dalam rangka mengacaukan pemahaman Islam dari dalam.
Kalau mengacu pada Hamzah, maka ada selisih angka 430 antara 6666 dengan 6236. tidak jelas sumbernya, tapi ada yang menafsirkan bahwa angka 430 itu merupakan metafora dari sosok Nabi Muhammad. Lafadl atau kata Muhammad tersusun dari huruf, “mim”, “ha”, “mim”, dan “dal”. Masing-masing huruf ini berfungsi sebagai indeks, sebagai berikut;
Mim huruf hijaiyah ke 24, surat ke 24 adalah An Nuur berjumlah 64 ayat;
Ha huruf hijaiyah ke 6, surat ke 6 adalah al An’am berjumlah 165 ayat;
Mim huruf hijaiyah ke 24, surat ke 24 adalah An Nuur berjumlah 64 ayat;
Dal huruf hujaiyah ke 8, surat ke 8 adalah al Anfaal berjumlah 75 ayat.
Dengan menjumlah nomor urut surat dan total seluruh ayat, (24+64+6+165+24+64+8+75), akan kita peroleh angka 430.
Hasil olah ini merupakan kebetulan yang ajaib. Yakni, para pendukungnya mencoba mengkaitkan dengan teks yang menyatakan bahwa umat Islam harus berpegang teguh pada dua hal; al Quran (6236) dan al Hadist (430). Dimana kita ketahui bahwa hadist merupakan ucapan, tindakan dan penetapan Nabi Muhammad.
Baik versi konspiratif atau elaboratif-metaforis, yakni versi Hamzah dan ulama yang tersebut di atas, 6236 atau lainnya. Artinya angka 6666 tidak berkorespondensi dengan seluruh ayat al Quran.
*Di sari dari berbagai sumber..
"Kasihan...", lalu?
Aku mendengar banyak nyanyian tentang tangisan..
Ada juga tangisan dari mereka yang tak lagi bisa bernyanyi..
Mendaluh pelan secara lirih, berasal dari lobang kecil gelap
yang tak terjamah namun dihuni anak manusia..
Di selokan, sumur kering, gudang kardus hingga taman sampah..
disembunyikan oleh tingginya gedung pencakar langit, digelapkan oleh terangnya kemegahan bangunan mewah nan suci akan kutu..
Mereka di bawah sana menanti sepercik harapan untuk berdiri..
Mereka di kegelapan siang menunduk, bukan untuk bersembunyi namun untuk bertahan hidup..
Mereka merintih di sana bukan karena lemah, tetapi sudah lupa dengan rasa nasi hangat..
Manusia berdasi yang menunggangi benda besi beroda Empat,
angkuh telah mengolesi pagar rumahnya dengan cat berwarna seharga Empat Puluh
Ribu Rupiah..
Seakan leher mereka telah kaku untuk menoleh kesamping, sedikit saja,
melihat jijik nya hamparan manusia jalanan, sambil berkata, "kasihan mereka.."
Bukan tanpa alasan,
berbaring di atas lumpur adalah suatu 'kemurahan' hati manusia berdasi berbadan tambun, yang mengizinkan mereka tidur disana karena di atas lumpur tak ada pajak..
di kolong jembatan tak ada devisa negara yang produktif..
di kerumunan lalat, juga tak ada BUMN..
jika sudah begini, situasi apa yang lebih memungkinkan untuk berkata, "kasihan mereka..".
setelah mengasihani, lalu apa?
endapan tai ngongo' dan endapan uang saku..
pernah suatu ketika badan tipis dan kering ini merinding menganga karena rasa lapar yang sangat. di tempat yang jauh dari rumah, tak ada kawan walau banyak teman. ayu nya malam yang dengan sombong memaksakan keindahannya menyeruakkan dingin dan angin, membuat ku (ketika itu) membenci malam. seakan menyoraki kerontang perut yang telah membuat buih di ujung leher. lembutnya lidah yang telah kaku bergerak menjadi target rahang gigi ku untuk ku gigit sebagai santapan daging kenyal kala itu.
padahal kemarin...
rumah pondokan ala mahasiswa, 6 kepala manusia tertawa terbahak terbawa gemilang gembira. tak ada keluhan, yang ada hanya kepuasan. saya berada di pinggir di antar barisan tak beraturan kepala-kepala itu. sedang sibuk menguliti sisa-sisa makanan yang sedari tadi ku hantam terselip di antara ruas gigi yang tak tertata sempurna. bagaimana tidak, seorang kawan lama yang dulu masih lusuh, kini dengan rambut gondrong nya dan janggut brewok nya kembali bersua dengan saya, dengan kami. si kawan tersebut baru menancapkan kembali kaki nya di kampung halamannya sendiri pada siang sebelumnya. sebelum 3 tahun sebelumnya meninggalkan rumahnya untuk mengadu nasib di kandang orang, di Kalimantan.
kilahnya yang hanya mencoba peruntungan di tanah rantau berbuah manis dengan membawa hasil keringatnya yang cukup membuatnya untuk pamer akan kemandirian yang Dia miliki. seperti biasa, dia menyambut nostalgia bersama dengan lembaran uang yang di konversi menjadikan kamar itu sebagai gudang makanan, cemilan, minuman dan "minum-an".
tak sanggup lagi perut ini menampung makanan yang sedari tadi membuat mulut, gigi dan lidah ku bekerja mengunyah dan menelan. tak puas dengan sambel nya lalapaan, datang lagi sari laut. tak merasa empuk dengan daging sari laut, tiba lagi pizza. merasa asing dengan pizza, muncul lagi sate. belum lagi cemilan yang jika membuka bungkusannya saja sudah capek untuk dihabiskan saking banyaknya. tegukan minuman tak lagi terasa dengan takaran biasanya, terpaksa dituang secara eksta kepada peserta 'pesta' malam itu. tak perlu ku beri tahu ending nya, yang jelas membuat kikuk dan lupa diri. saking lupanya, membuat saya dan kawan-kawan yang lain telah men-sortir biaya hidup untuk makan besok dan iuran keperluan kuliah lainnya untuk didonorkan demi meng-glamour-kan pesta malam itu..
hingga saat beberapa hari setelahnya tiba membuat ku dalam keadaan hampir busung!
tehnik derita yang ku gunakan tak lagi ampuh untuk emngurangi beban, yaitu pura-pura tidak menderita. jika dibilang menyesal atas kesenangan semalam kemarin, tantu saja saya mengakuinya. semalam ku teriak dan kini seminggu ku akan hanya berbisik. sungguh baru kali itu ku merindukan nasi putih yang sejak 1 hari lebih itu belum ku sentuh.
kuda besi ku ber-merk Yamaha Mio scooter matic juga sudah kekeringan bensin yang tak bisa lagi mengantar ku pulang ke rumah. seperti kisah malam itu yang telah di setting, kian lengkap dengan nasib sama yang dialami teman-temanku membuat tak ada tempat untuk ku meminjam bantuan dana.
setelah ku kuras habis isi hidung ku, menggerogoti gempulan (maaf)tai yang ada di dalamnya. pasalnya dengan cara itulah biasanya saya akan biasa tenang dan berfikir. entah mengapa cara mengupil yang ku lakukan sering berbuah hasil. paling tidak hasil "tangkapan" upil yang besar-besar.
betul betul habis isi hidung ku, dengan iseng ku kumpulkan "hasil" yang ku dapat dari hidung ku itu, kugabungkan dan ku buat bulat hingga saya sendiri terkejut melihat hasilnya yang hampir sebesar telur cicak. bayangkan telur cicak yang terbuat dari TAI NGONGO'! adddeehhh... kagetnya pak Presiden!
seraya bangga akan karya super jorok alias rantasa' ku sendiri, membuat ku ingin menyimpannya dan akan ku pamerkan ke teman-teman ku yang lain. saat ku masukkan kekantong kiri celana, menaruhnya di dalam dan kutarik tangan keluar tiba-tiba mukjizat datang. dewi fortuna betul-betul memihak kepada ku malam itu. tebak apa yang ku temukan? entah karena baru sadar atau memang lupa, tai ngongo' ku yang ku kantongi tad kembali menunjukkan keajaibannya. ada uang 10 ribu mengendap di saku celana itu. celan yang ku pinjam dari teman ku...
"maaf Kawan, ku pake' dulu uang mu! dari pa' maros baru saya gantikan ku 15 ribu!"
dangan langkah hepi yang tertatih, mulutku berbuih sambil bernyanyi, "i will Survive, I will survive.."(cake).
_under the night elbow_
padahal kemarin...
rumah pondokan ala mahasiswa, 6 kepala manusia tertawa terbahak terbawa gemilang gembira. tak ada keluhan, yang ada hanya kepuasan. saya berada di pinggir di antar barisan tak beraturan kepala-kepala itu. sedang sibuk menguliti sisa-sisa makanan yang sedari tadi ku hantam terselip di antara ruas gigi yang tak tertata sempurna. bagaimana tidak, seorang kawan lama yang dulu masih lusuh, kini dengan rambut gondrong nya dan janggut brewok nya kembali bersua dengan saya, dengan kami. si kawan tersebut baru menancapkan kembali kaki nya di kampung halamannya sendiri pada siang sebelumnya. sebelum 3 tahun sebelumnya meninggalkan rumahnya untuk mengadu nasib di kandang orang, di Kalimantan.
kilahnya yang hanya mencoba peruntungan di tanah rantau berbuah manis dengan membawa hasil keringatnya yang cukup membuatnya untuk pamer akan kemandirian yang Dia miliki. seperti biasa, dia menyambut nostalgia bersama dengan lembaran uang yang di konversi menjadikan kamar itu sebagai gudang makanan, cemilan, minuman dan "minum-an".
tak sanggup lagi perut ini menampung makanan yang sedari tadi membuat mulut, gigi dan lidah ku bekerja mengunyah dan menelan. tak puas dengan sambel nya lalapaan, datang lagi sari laut. tak merasa empuk dengan daging sari laut, tiba lagi pizza. merasa asing dengan pizza, muncul lagi sate. belum lagi cemilan yang jika membuka bungkusannya saja sudah capek untuk dihabiskan saking banyaknya. tegukan minuman tak lagi terasa dengan takaran biasanya, terpaksa dituang secara eksta kepada peserta 'pesta' malam itu. tak perlu ku beri tahu ending nya, yang jelas membuat kikuk dan lupa diri. saking lupanya, membuat saya dan kawan-kawan yang lain telah men-sortir biaya hidup untuk makan besok dan iuran keperluan kuliah lainnya untuk didonorkan demi meng-glamour-kan pesta malam itu..
hingga saat beberapa hari setelahnya tiba membuat ku dalam keadaan hampir busung!
tehnik derita yang ku gunakan tak lagi ampuh untuk emngurangi beban, yaitu pura-pura tidak menderita. jika dibilang menyesal atas kesenangan semalam kemarin, tantu saja saya mengakuinya. semalam ku teriak dan kini seminggu ku akan hanya berbisik. sungguh baru kali itu ku merindukan nasi putih yang sejak 1 hari lebih itu belum ku sentuh.
kuda besi ku ber-merk Yamaha Mio scooter matic juga sudah kekeringan bensin yang tak bisa lagi mengantar ku pulang ke rumah. seperti kisah malam itu yang telah di setting, kian lengkap dengan nasib sama yang dialami teman-temanku membuat tak ada tempat untuk ku meminjam bantuan dana.
setelah ku kuras habis isi hidung ku, menggerogoti gempulan (maaf)tai yang ada di dalamnya. pasalnya dengan cara itulah biasanya saya akan biasa tenang dan berfikir. entah mengapa cara mengupil yang ku lakukan sering berbuah hasil. paling tidak hasil "tangkapan" upil yang besar-besar.
betul betul habis isi hidung ku, dengan iseng ku kumpulkan "hasil" yang ku dapat dari hidung ku itu, kugabungkan dan ku buat bulat hingga saya sendiri terkejut melihat hasilnya yang hampir sebesar telur cicak. bayangkan telur cicak yang terbuat dari TAI NGONGO'! adddeehhh... kagetnya pak Presiden!
seraya bangga akan karya super jorok alias rantasa' ku sendiri, membuat ku ingin menyimpannya dan akan ku pamerkan ke teman-teman ku yang lain. saat ku masukkan kekantong kiri celana, menaruhnya di dalam dan kutarik tangan keluar tiba-tiba mukjizat datang. dewi fortuna betul-betul memihak kepada ku malam itu. tebak apa yang ku temukan? entah karena baru sadar atau memang lupa, tai ngongo' ku yang ku kantongi tad kembali menunjukkan keajaibannya. ada uang 10 ribu mengendap di saku celana itu. celan yang ku pinjam dari teman ku...
"maaf Kawan, ku pake' dulu uang mu! dari pa' maros baru saya gantikan ku 15 ribu!"
dangan langkah hepi yang tertatih, mulutku berbuih sambil bernyanyi, "i will Survive, I will survive.."(cake).
_under the night elbow_
cahaya bulan
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui..
Apakah kau masih selembut dahulu? Yang memintaku minum susu dan tidur yang lelap..
Sambil membenarkan letak leher kemeja ku, kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah Kasih, Lembah Padalawangi..
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin..
Apakah kau masih akan membelai ku semesra dahulu? Ketika ku dekap, kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata, "ku dengar detak jantung mu..".
Kita begitu berbeda dalam banyak hal, kecuali dalam cinta..
(SOE HOK GIE)
Apakah kau masih selembut dahulu? Yang memintaku minum susu dan tidur yang lelap..
Sambil membenarkan letak leher kemeja ku, kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah Kasih, Lembah Padalawangi..
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin..
Apakah kau masih akan membelai ku semesra dahulu? Ketika ku dekap, kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata, "ku dengar detak jantung mu..".
Kita begitu berbeda dalam banyak hal, kecuali dalam cinta..
(SOE HOK GIE)
Langganan:
Komentar (Atom)

