Sudah sekitar pukul 11 malam, ku tak punya jam tapi setidaknya saya sudah hafal betul malam dengan kronologisnya, konstelasi bintangnya, atau lintasan bulannya. Ya, tepatnya pada malam dimana ku menyaksikan sebuah pemandangan yang begitu naïf tapi cukup logis, ketika Makassar berada pada klimaks glamournya. Membuat ku kini merasa tenggelam ke dalam lumpur pasir, makin lama makin kalap, makin terpikir semakin membuat ku ingin menjadi orang yang tak tahu apa-apa saja. Kota metropolitan yang menyuguhkan begitu banyak hiburan instan berupa sinergi materi dan kepuasan, profesi dan cita-cita, nasib dan takdir, cinta dan nafsu, wanita dan pria. Bongkahan dada wanita penjajak tubuh semakin aktraktif ketika mereka berjalan, pria-pria muda yang sedang kepanasan menatapnya sekilas namun dengan cermat memberi nilai atas kadar libidonya. Mereka bernegosiasi, menggombal dan menghilang setelah seorang wanita dengan umur yang lebih tua member isyarat ‘deal’. Pikiranku membuas dan menjadi liar menjawab Tanya ku, “kemana mereka pergi?”.
Hujan, tempat itu tetap ramai. Semakin larut semakin panas pula nampaknya..
Sial, makin deras saja tumpahan air hujan kala itu. Saya memilih berteduh disebuah emperan press ban yang tentu saja kebetulan ada di ujung daerah lokalisasi tersebut, daripada melanjutkan perjalanan pulang ke Maros sehabis menyoraki tim sepak bola kebanggaan ku PSM berlaga yang telah menghibur ku malam tersebut. Ada sebuah deskripsi di tempat ku numpang kering saat itu. Pemandangan yang membuat seorang laki-laki normal dan parau seperti saya seketika grogi, kaget, tercengang, penasaran dan malu. Hujan semakin tebal, kuas butiran air yang seharusnya lembut menjadi kasar. Ya, saya memilih bertedus saja dulu.
Ditemani segelas kopi yang ku pesan di emperan multi emperan tersebut dan beberapa batang rokok, sesekali ku mencuri pandangan ke arah timur dimana mereka yang sedang ‘berdagang’ sibuk mencari pelanggan. Pandangan ku beralih ke sebuah momen, sebuah potret,sebuah gejala hedonis sebenarnya mungkin lebih tepatnya. Seorang wanita dipapah oleh prianya, wanita muda yang mulus putih, masih terlalu muda. Mungkin ia mabuk, jalannya sempoyongan, kepalanya rapat di pundak seorang pria tegap. ku pastikan mereka ialah pasangan kencan, namun Sama sekali terlihat tidak romantis. si wanita pasti kedinginan, pakaiannya minim menampakkan garis bokong dan tiap sudut body sintalnya. Mereka baru saja keluar dari klub malam di wilayah itu, musik ajep-ajep terdengar jelas di tempat ku bernaung sekitar 500 meter jaraknya.
Ada sebuah momen, ketika wanita malang tersebut dipapah masuk ke mobil, sekejap 3 bocah dekil melintas di balik adegan wanita mabuk dan pria tegap tadi. Dengan kantongan plastik yang mereka pikul, saling kejar-kejaran bermain di bawah rintihan hujan di larutnya malam. Seorang gadis mungil mengejar 2 bocah ceking lainnya sesekali mereka saling memaki. Begitu kontras dengan gradasi warna dunia mereka, antara dunia 2 orang pasangan pemabuk dengan 3 orang bocah gelandangan. Miris. ketika realitas itu muncul secara visual dan terukir dalam mendeklarasikan indikator panggung sosialnya masing-masing. Sekalipun bisu, malam lebih banyak tahu tentang bintang. Sekalipun tabu, fenomena urban seperti ini bukanlah sebuah pilu namun dianggap lugu.
Melihat momen tersebut, membuat ku yang sedang kedinginan merasa kosong, marah. Entah marah kepada siapa. Ku sampaikan kesal ku dengan sunggingan senyum, nadi ku me-merah. Bagaikan menyaksikan sebuah siaran tv di channel yang berbeda, menggambar desain kota di kanvas kapas, mengolah kayu menjadi arang. Sekali lagi ku tertunduk dengan sunggingan senyum yang lebih kaku. Ku sering berbicara tentang idealisme, berpenasaran dengan metafisika, menyibukkan diri dengan angka-angka, selalu semangat untuk berdialektika, mengaku sebagai intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi mencanangkan kebenaran, berfalsafah dan punya cinta. Sekarang ku merasa begitu munafik, penipu dan pecundang. Menghadapi pemandangan sebegitu singkat saja sudah tersungkur malu! Hanya bisa menunjukkan sikap tak tahu atau tak mau tahu. Ego ku bermain, nalar ku mengambang di atas lintas kehidupan mereka. Cukup arogan karena menjastis dunia mereka begitu payah dan malang tanpa memikirkan bagaimana wujud mereka besok ketika datang hari.
Kini ku harus malu, tentu saja malu. Tak pernah terpikir kedua orang tua ku menjadikan ku sehebat ini yang begitu beruntung mengenyam pendidikan dan kehidupan layak, menjadikan ku setenang ini yang tak peka akan foya-foya. Selama ini ku terus menganyam simpul jerat cita-cita ku sendiri, menafkahi batin ini dengan ibadah serta memposisikan diri sebagai hamba. Begitu manusianya saya ternyata yang selalu kecewa atas kompresi takdir tiap jiwa padahal ku sangat meyakini qada’ dan qadar. Ku telusuri jalan hidup ku yang ternyata tiap orang punya rute hidup tersendiri, sekiranya ku tak tahu jika ternyata goresan di lintasan cerita hari-hari mereka begitu rumit, menanjak dan berjurang terjal di tiap sisi. Tak usah bercerita tentang wacana global lagi, momen tadi adalah tragedi. Tak usah mengkaji system ekonomi lagi, momen tadi adalah halusinasi iba hati..
Semoga saja ke-tiga bocah gelandangan tadi bukan keluarga atau kerabat ku, semoga saja wanita mabuk dan pria pemapah itu bukan orang-orang terdekat ku..
Terima kasih malam, semua wanita jalang, pria mesum dan bocah ingusan. Kalian membawa ku pulang untuk berdoa lagi..
-050511-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar