Beberapa hari lalu baru saja dunia pendidikan indonesia mengukir prasasti pada sendi generasi. SNMPTN yang merupakan tahapan seleksi menuju perguruan tinggi negri telah dilaksanakan, puluhan bahkan ratusan ribu siswa yang ‘berjudi’ untuk masa depannya khusus di sulawesi selatan mengikuti tes akademik tersebut. keringat saat melingkari jawaban dan ekskresi otak berfikir serta hentakan jantung yang terpacu oleh soal ujian tak berarti apa-apa untuk sebuah hasil cantuman nomor test pada saat pengumuman nanti. 12.30, universitas hasanuddin terlihat ramai oleh kemacetan jalan yang tak biasanya. Kala itu lain, wajah gusar para calon mahasiswa baru yang baru saja mengikuti tes SNMPTN diperlihatkan sepanjang jalan kampus ketika itu. Entah karena lapar, jalanan macet, tarif parkir dadakan yang mahal, atau mungkin soal ujian yang ‘ekstrim’.
Disebuah sudut halaman fakultas Teknik Unhas ketika saya menjemput seseorang yang juga ikut mengadu kemampuan akademiknya, sembari melepas tawa setelah bertemu ia memperlihatkan soal-soal ujiannya. Ternyata lembar test kemampuan potensi akademik dan ilmu sosial. Deretan soalnya tertulis tebal dan rapi namun sangat tak enak dipandang mata. Pertanyaan-pertanyaan moderat tersebut tak lagi masuk akal bagi ku setelah terakhir kali mencoba mengahadapinya 4 tahun lalu, pada saat saya juga ikut test SNMPTN (SPMB- ketika itu,) tahun 2007 lalu setelah berjuang mati-matian melulusi Ujian Akhir Nasional (UAN) tapi ternyata UAN sendiri tidak menyentuh esensi dari suatu evaluasi pendidikan, melainkan hanya menjadi suatu ritual tahunan yang mesti dilalui oleh siswa baik di jenjang dasar ataupun menengah. UAN bahkan juga menjadi salah satu syarat yang menentukan kelulusan yang sebenarnya tidak sah karena hanya berdasarkan nilai tanpa melihat proses, ditambah lagi kemampuan tiap siswa di tiap sekolah daerah-daerah berbeda.
Saya berkata demikian karena jujur, secara kemauan dan potensi, saya belum merasa bisa memenuhi esensi pendidikan menengah tersebut.
Siluet itu makin silau oleh pertanyaan saya sendiri, “relevan kah suatu kemampuan, kemauan dan rejeki?”. ku benturkan ke 3 aspek dominasi itu, antara kemampuan menjadi bibit unggul pelajar indonesia, kemauan menjadi bibit unggul pelajar indonesia dan rejeki menjadi mahasiswa di PTN. Sudahlah, tentu saja faktor rejeki/peruntungan yang mendominasi.
Berbicara dunia Pendidikan bagi saya sesuatu yang menarik, luas dan bebas. Bukan kritik, saya tidak suka mengkritik. Bagaimana kalau beropini?!. Mungkin akan memancing lahir opini lain, mungkin memancing lahir orasi, tuntutan, mungkin juga ide revolusi pendidikan walau akan terkesan hipokrit. Mengapa pendidikan perlu di revolusi? Sekali lagi, saya tak suka mengkritik..
saya jadi teringat sebuah artikel tentang itu, tentang proses atau tahapan olah pendidikan. isinya kira kira seputar opini dan kritik tentang pendidikan di indonesia. Saya sering membayangkan hidup di sebuah dunia di mana setiap penghuninya dapat dengan bebas dan terbuka saling berbagi cerita dan pengalaman, membuka dirinya bagi kehadiran dan keberadaan pihak lain. Menerima keberadaan orang lain apa adanya, dan saling menjunjung kedaulatan serta kemerdekaan pihak lain. Apakah itu semua dapat kita temukan dalam dunia pendidikan?
Sayangnya, kita tak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa banyak orang yang (baik disadari maupun tidak) lebih senang memakan buah yang lebih dulu dikunyahkan orang lain yang dianggap lebih tahu, lebih bijaksana, lebih pengalaman, lebih pintar... .
Saya sendiri sering mengalami bagaimana murid-murid merasa lebih "aman" bila tahu apa pendapat gurunya tentang sesuatu hal, dan akhirnya menjadikan pendapat gurunya tersebut sebagai pendapatnya juga. Lalu ketika saatnya ujian, jawaban yang diberikan murid adalah jawaban yang sama persis dengan pendapat sang guru, meskipun soal di kertas ujian sangat jelas terbaca: "Uraikan pendapatmu tentang..." Celakanya lagi, sang guru tampak senang dan memberi nilai yang baik, atas jawaban si murid, sebab dianggap muridnya sudah dapat memberikan jawaban dan pendapat yang baik dan tepat, sama seperti pendapatnya.
Jika hal ini cenderung (atau bahkan mungkin sudah) menjadi kenyataan dalam proses pendidikan kita, maka tampaknya kita pantas mengurut dada bila pendidikan tidak lagi dipandang sebagai upaya memanusiakan manusia, melainkan mem-beo-kan manusia. Moga-moga tidak!
Marilah kita belajar dari Sang Maha-Guru Agung, Allah kita. Allah memberikan hak dan kesempatan kepada Adam untuk menamai ciptaan yang lain. Kisah ini bukan semata-mata kisah saja, terlebih bila kita mengingat bahwa manusia itu dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Dalam kisah tersebut kita melihat betapa tingginya harkat dan martabat manusia dan betapa luhurnya fitrah manusia.
Pengakuan bahwa Allah sendiri memberi manusia kebebasan untuk menamai ciptaan yang lain, menunjukkan bahwa fitrah, harkat dan martabat manusia yang agung itu dimungkinkan dan ditetapkan sejak penciptaan manusia oleh Allah sendiri. Tindakan menghargai fitrah, harkat dan martabat manusia merupakan tindakan ilahi.
Tindakan Allah tersebut memberikan kepada kita suatu kerangka dasar bagi pengakuan atas kebebasan dan kedaulatan manusia, yang sejak awalnya telah diberi kebebasan oleh Allah untuk menamai bahkan menanggungjawabi perbuatannya. Kebebasan itu ternyata pula diletakkan dalam relasi yang erat dengan ciptaan yang lain (yaitu alam) dalam harmoni cinta.
Tetapi dalam kisah selanjutnya kita juga melihat bahwa kebebasan dan kedaulatan itu dibayangi oleh krisis. Krisis yang mengancam dan mampu menghancurkan manakala kebebasan dan kedaulatan tidak lagi diikuti oleh tanggung jawab dan kesadaran akan hakikat keberadaan diri. Adam dan Hawa melepas tanggung jawab untuk taat kepada batas-batas yang Allah tetapkan. Keinginan untuk menjadi seperti Allah, yang juga berarti keinginan untuk berkuasa dan menguasai pihak lain, mengakibatkan Adam dan Hawa lupa akan keberadaan diri mereka. Selanjutnya kita tahu apa yang terjadi.
Baik Adam maupun Hawa tidak mampu bersikap kritis dan waspada atas apa yang dinyatakan oleh ular. Kebebasan dan kedaulatan mereka tidak disertai oleh sikap kritis dan waspada. Kritis dan waspada terhadap krisis-krisis yang mungkin ada di dalam kebebasan dan kedaulatan itu sendiri. Ketika diperhadapkan pada pilihan yang menggiurkan, segala pertimbangan hanya memusat pada diri mereka sendiri. Saat itu sebenarnya harmoni dengan alam, terlebih dengan Pencipta tidak lagi masuk dalam pertimbangan. Harmoni yang indah tersebut dikalahkan oleh ego mereka.
Kita melihat bahwa di satu sisi kebebasan dan kedaulatan merupakan milik yang berharga bagi manusia sebab hal itu merupakan bagian dari fitrah, harkat dan martabat manusia. Namun di sisi lain kita juga tak dapat melupakan tanggung jawab dan kesadaran akan keberadaan diri kita.
Dikaitkan dengan pendidikan, maka kita harus senantiasa mengingat bahwa fitrah, harkat dan martabat manusia menjadi kerangka dasar pendidikan. Itu berarti, pendidikan semestinya menjunjung tinggi kebebasan dan kedaulatan tiap individu yang terlibat di dalamnya, terlebih dalam diri murid.
Sebagaimana telah dikatakan di atas, bahwa tindakan penghargaan akan kebebasan dan kedaulatan merupakan tindakan ilahi. Namun kebebasan dan kedaulatan tersebut bukanlah kebebasan dan kedaulatan yang memusat pada diri sendiri. Kebebasan dan kedaulatan pada akhirnya harus bermuara pada kesadaran akan relasi manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Pencipta-Nya. Kesadaran ini diarahkan dalam harmoni dan semangat kebersamaan.
Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi suatu upaya untuk membebaskan manusia dari pemusatan segala sesuatu kepada diri sendiri dan mengarahkan kebebasan serta kedaulatan manusia bagi perjuangan untuk mengupayakan kebebasan dan kedaulatan sesamanya. Pendidikan yang membebaskan berarti juga upaya untuk memungkinkan berkembangnya sikap kritis, terlebih kritis terhadap diri sendiri (yang ditandai dengan berkembangnya otokritik dan introspeksi). Hal ini dilakukan dalam kesadaran akan keterkaitan diri dengan sesama dan dunianya serta terhadap Penciptanya.
Mungkinkah dan kapankah upaya itu dapat kita lihat hasilnya? Menurut saya sangat mungkin. Kapan? Ketika murid-murid sudah dapat berkata: "Pak Guru, Bu Guru, biarkan saya mengunyah buah saya sendiri...!"
Tebahasakan rapi memang, seakan opini ini muncul secara kritis bukan berarti dari personal yang idealis. Saya sendiri memiliki track-record yang buruk pada rapor akademik kuliah. Lantas mengapa saya berani beropini sekencang ini? sekali lagi, karena saya sedang ber-opini, tak sedang mengkritik!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar