Minggu 1 Agustus 2010, di halaman Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, secara khidmat dilakukan doa bersama yang mengantar keberangkatan tim pendakian Gunung Latimojong, Enrekang. 4 orang pendaki tuan rumah dari UKM PA Edelweis FIB-UH sejatinya mengantar seorang tamu dari Mapala Galara UNTAD, Palu. Namun karena tak seorangpun dari ke-empat mapala Edelweis itu yang pernah menyentuh trangulasi Latimojong, maka diadakanlah pendakian latimojong perdana mereka bersama.
Ialah puncak Rantemario yang menjadi target pendakian, berada pada ketinggian 3468Mdpl tentu dapat ditebak jalur menuju puncak tidak seenteng jogging yang menjadi latihan dasar sebelum mendaki. Terlebih status latimojong yang merupakan gunung tertinggi di Sulawesi kian merambah semangat para pemuda itu untuk bisa duduk di atas trangulasinya kelak. Tim pendakian dibekali GPS dan peta sebagai pedoman navigasi dan nyali menembus terjalnya jalur serta tajamnya dingin yang mengacaukan aliran darah.
Tim berangkat menuju Enrekang sekitar pukul 05.30 dengan menggunakan jasa mobil angkutan antar kota. Perjalanan diisi dengan beristirahat menutup kantuk yang tersisa sehabis packing semalaman. Tiba di Enrekang melewati pasar Baraka yang terkenal akan kopinya dan menuju polsek Baraka melapor kepada petugas setempat, sekedar pemberitahuan untuk mengantisipasi jika seandainya terjadi sesuatu di atas gunung nanti. Setelah memasukkan surat, kemudian tim menyempatkan berkunjung ke base camp KPA Lembayung yang berada tidak jauh di depan polsek Baraka. Namun tak ada seorang personil yang bisa menyambut tim, pasalnya mereka juga sedang mengantar tamu lain yang juga naik ke latimojong. Tim pun hanya berinisiatif mengisi buku tamu serta titipan salam untuk kawan-kawan KPA Lembayung,” Salam Lestari”, katanya.
Tim pendakian gunung Latimojong kemudian menerima tawaran dari sopir yang mengantar dari Makassar tadi untuk menunggu mobil menuju kampung ke kaki gunung di depan rumahnya sambil sedikit beristirahat disana. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 namun belum ada tanda-tanda akan adanya mobil yang bersedia mengantar tim. Hingga pukul 15.30 akhirnya sebuah truk pengangkut barang yang terlihat tak perkasa lagi bersedia mengantar tim namun tak mungkin sampai di Rantelemo, 2 desa terakhir menuju kaki gunung yang bisa diakses oleh mobil. Karena malas menghabiskan waktu menunggu lebih lama, tim harus naik ke truk tersebut.
Petualangan dimulai lebih awal, karena musim hujan membuat jalan pengerasan becek dan berlubang membuat mobil mirip kendaraan off-road. Tim yang dibuat tercegang menahan rasa was-was kian merapatkan pegangannya di tiang mobil, terlebih di sisi kanan ialah jurang yang menganga yang tak terlihat dasarnya. Kemiringan mobil juga mencapai 30 derajat kian mempercepat adrenalin yang dipacu 30 menit lamanya. Tim sempat terkesima melihat semangat nasionalisme anak-anak di desa itu, jalan yang berkubang serta terjal medan tak membuat mereka gentar untuk latihan baris-berbaris persiapan lomba tahunan nanti. Off-road terus berlanjut. Beberapa kali mobil tak mampu bergerak oleh licinnya jalanan yang mengubur roda-rodanya, membuat mobil terpaksa ditarik penumpang secara marathon. Sungguh sebuah awal perjalanan yang melelahkan.
Tim tiba di desa tujuan truk, desa Pasonken sekitar pukul 17.00. setelah melihat mepetnya waktu, tim melanjutkan perjalanan menuju planning camp di desa Pantelemo. Setelah berjalan hampir 2 jam lamanya, tim memutuskan untuk untuk camp di rumah penduduk pada pukul 19.30.
Perjalanan dilanjutkan pada pagi harinya, targetnya ialah pos 2 untuk hari ini. Masih melewati jalan berkubang serta track yang panjang dan mendaki cukup mempercepat nafas tim melaju. Tiba di desa rantelemo pukul 11.00 tim menempatkan beristirahat sejenak di rumah warga. Masih tersisa 2 kampung lagi menuju kaki gunung. Tim kemudian sampai di kampung terakhir, desa Karangan yang merupakan kampung terdekat dari kaki gunung. Tim makan siang di rumah penduduk dengan ransum sendiri seadanya yang dianggap berbobot untuk pasokan energi hingga petang nanti.
tim mulai masuk kaki gunung dengan energi baru dan semangat yang menggebu. Memacu langkah kaki menapaki tiap jengkal tanah secara cepat. Terdapat banyak celah sungai dan mata air di gerbang rimba juga medan yang belum terlalu terjal membuat perjalanan enteng. Hingga tiba di pendakian terjal pertama yang cukup licin dan setapak langkah, tim mulai mengatur formasi jalan dari leader hingga sweeper. Tak banyak cerita yang bisa dikisahkan dalam perjalanan kali ini, hanya lebatnya hutan tertutup dan pohon berlumut yang mendominasi pandangan mata. Pos 1 di jumpai di titik landai lainnya tidak terlalu luas namun cukup untuk 2 tenda dan tak ada sumber air.
Tak banyak waktu yang digunakan beristirahat di pos 1, tim hanya menyempatkan mendata camp dan meneguk air lalu melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju pos 2 dilanjutkan sudah masuk sore hari, kian memaksa tim untuk lebih mempercepat langkahnya. Tak jauh berbeda dengan keadaan jalur dari pos 1 tadi, jalan licin dan setapak yang cukup menyulitkan tapi tak membuat gentar para pendaki ini untuk berdiri di tempat tertinggi di Sulawesi. Jurang-jurang yang cukup besar juga cukup mengancam langkah tim untuk lebih berhati-hati, tiap saat longsor bisa saja terjadi mengingat hujan yang mengguyur membuat tanah menjadi lembek dan pohon tak lagi kuat berpegang pada tanah.
Beberapa kali tim menyempatkan untuk beristirahat menarik nafas sejenak di tempat-tempat memungkinkan untuk duduk. Pasalnya sangat jarang ditemui tempat-tempat landai, luas dan terbuka di jalur ini. Track up dan track down sering dijumpai sambil menyisir punggungan di bekali pegangan akar dan tumbuhan liar sebagai pegangan. Vegetasi liarnya juga tak banyak menampilkan tumbuhan konsumtif dan sukar dikenali.
Setelah berjalan kosong beberapa lama, terdengarlah arus sungai yang deras yang meandakan pos 2 sudah tak jauh lagi. Tinggal menyusuri pinggiran sungai dari punggungan gunung yang sedikit menurun menuju dasar aliran sungai. Tim tiba di pos 2 sebagai target hari itu pada pukul 17.30 dengan keadaan masih fit dan semangat walau sedikit agak lelah menembus panjang track dari kampung hingga pos 2 ini.
Keadaan di pos 2 lumayan nyaman, berada di shelter pinggir sungai aliran deras cukup untuk 2-3 tenda. Terlebih lagi terdapat tempat landai lain di bagian bawah yang cukup luas dan nyaman. Sumber air jelas berada dekat dengan camp, airnya juga segar, dingin dan murni. Namun sayang camp terlihat tak terawat karena banyaknya tumpukan sampah non-organik berupa kaleng, botol, plastik dan cat mengotori dinding shelter yang mengurangi wajah alami pos 2 itu. Terpaksa tim bekerja ekstra sebagai Mahasiswa Pecinta Alam yang menjunjung tinggi Kode Etik Pecinta Alam untuk membersihkan camp tersebut sebagai bukti tanggung jawab akan loyalitas terhadap janji kepada lembaga dan ciptaan Tuhan yang Maha Besar.
Setelah beristirahat dan membersihkan camp pada camp bagian bawah lalu ditimbun, secara gotong royong tim membagi tugas untuk kegiatan malam itu. Mulai dari juru masak, mendirikan tenda dan cuci ransum. Suara aliran sungai yang cukup deras menbuat tim berkomunikasi dengan suara agak keras, terlebih jarak dengan sungai hanya beberapa meter di depan camp. Setalah makan malam tim kemudian beristirahat mempersiapkan perjalanan besok yang tak kalah serunya.
Dingin angin yang menembus sleeping Bag membuat tim bangun lebih awal subuh itu. Sambil menghangatkan air membuat kopi pengahangat badan, tim juga mulai mem-packing barang dan membongkar tenda. Setelah sarapan roti dan mengisi jeregen di sungai, tim pun melanjutkan perjalanan menuju pos 5. Maklum, dari beberapa sumber mengatakan tak ada lagi sumber air di pos berikutnya hingga pos 5, itu pun berada jauh dari camp berjarak hampir 1 kilo. Maka tim antisipatif dengan menyiapkan 2 jeregen kapasitas 5 liter sekaligus terisi penuh.
Jalus akses pada medan kali ini terbilang cukup sulit karena habis longsor. Tanah retak dan banyaknya pohon tumbang menjadi kendala untuk berjalan lebih cepat. Terlebih lagi jalur yang lebih panjang ditempuh sekitar 2 jam penuh. Beruntung cuaca yang sedikit lebih bersahabat yang tidak terlalu mengguyur Latimojong dengan deras dan kondisi tim yang masih prima sehabis istirahat semalaman dan sarapan pagi tadi. Medan menanjak curam sesekali menantang tim untuk melangkah ekstra hati-hati, melihat bebatuan yang mudah lepas membahayakan anggota tim yang berjalan di belakang. Belum lagi pegangan akar dan dahan yang rapuh sempat menghentak beberapa anggota tim terperosok. Beruntung hingga pos berikutnya tak terjadi cedera berarti.
Pos 3 berhasil di capai tim setelah berjalan sekitar hampir 2 jam. Keadaan pos sendiri tidak cukup baik untuk mendirikan camp. Keadaan medan yang tidak landai dan tidak cukup luas hanya bisa dijadikan tempat istirahat saja. Tim menyempatkan menghabisi 1-2 batang rokok tentu saja sambil mendata pos. setelah beristirahat cukup lama dan menuntaskan pendataan, perjalanan dilanjutkan menuju pos 4. Medan yang dilalui mulai berubah di jalur ini. Jika jalur pos 1 ke 2 dan 2 ke 3 dilalui dengan menyisir punggungan, jalur pos 3 ke 4 malah lebih banyak mendaki dengan pemandangan terbuka dan dingin lebih terasa. Kecepatan langkah juga sudah bisa diatur meskipun nafas yang sesekali kedodoran membuat tim singgah mengirup 3-5 tarikan nafas menghela detakan jantung.
Nikmatnya view dijalur itu membuat tim merasa enjoy dan tak menyangka sudah tiba di pos 4. Keadaan di pos itu agak terbuka, bisa didirikan camp, agak landai meski beralaskan batu yang tidak rata, namun tak ada sumber air. Jarak ke pos 4 kurang lebih 0,6 km atau waktu tempuh normal 1 jam. Tim kemudian tak mau berlama-lama mengabiskan waktu di pos itu, melihat pos 5 yang menjadi camp untuk hari itu sudah dekat. Perjalanan yang dilanjutkan dengan masih diiringi semangat dan fisik yang mulai goyang karena menerobos 3 pos sekaligus dalam waktu singkat sekitar 3 jam. Perjalanan tak jauh berbeda dengna jalur sebelumnya. Menanjak, terjal dan panjang.
Hingga tiba di pos 5 sekitar pukul 12.00, terlihat beberpa tenda telah berdiri namun tak berpenghuni. Mungkin pendaki lain punya planning yang sama dengan tim. Yaitu camp di pos 5 lalu ke puncak agar lebih enteng tanpa membawa carrier. Pasalnya musim hujan membuat repot jika camp di pos 7 yang terbuka dan suhu yang ekstrim. Tim mulai memasang flysheet sebagai tembat bernaung berhubung hujan mengguyur sejak pagi tadi. Sembari mempersiapkan misting, trangia dan kompor portable untuk masak makan siang. Tak lama berselang, 2 penghuni camp sebelumnya dari salah satu KPA Makassar lebih dahulu turun dan menyapa tim dengan salam khasnya. Tim kemudian menyuguhkan kopi hangat dan makanan seadannya karena mereka akan segera turun melihat masih cukup banyak waktu untuk tiba di Karangan.
Keadaan pos 5 sendiri cukup luas, sangat nyaman untuk camp. Lokasinya tertutup dengan sedikit salah satu sudut yang menyajikan view terbuka. Cukup untuk 5-7 tenda. Terdapat sumber air, namun dengan jarak tempuh yang cukup jauh ke sebelah kiri bawah camp. Tim yang masih menyisakan 2 jeregen air dari pos 2, dan hasil air tampungan dari hujan membuat tim tak perlu repot mengambil air.
Hingga pada sore harinya, Mapala lain dari Mahadipa STMIK Dipanegara yang juga mengantar Mapala dari Manado tiba di pos 5 setelah di guyur hujan ketika di puncak. Terjalin keakraban yang lebih terasa berhubung beberapa anggota tim sudah saling kenal. Tak perlu saling sungkan untuk saling bercanda, menawari rokok dan kopi serta cemilan. Hingga malam tiba ketika sudah bosan berlama-lama beristirahat selama stengah hari penuh, tim kemudian beristirahat lebih cepat untuk menghangatkan badan yang diiris dingin serta hujan malam itu di Latimojong.
Pagi tiba, namun cuaca kurang bersahabat. Hujan masih mengguyur membuat tim berpikir untuk tembus ke puncak. Karena tak ada tanda-tanda akan redanya hujan, maka pada pukul 08.00 tim mengambil resiko untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga top destinasi. Bermodalkan semangat dan mental yang masih prima, seluruh anggota tim tak terlihat gentar sedikitpun.
Seperti biasa, sebelum melanjutkan perjalanan, doa bersama dipimpin oleh panglima operasi. Memohon perlindungan kepadaNya serta mensyukuri nikmat hari ini dariNya. Medan yang semakin licin dan terjal kian mendramatisir panjangnya cerita di jalur itu. Tak ada bonus yang diberikan, hanya tempat bijakan berdiri yang tersaji. Suhu dingin yang menusuk kian membuat nafas tiap anggota semakin pendek. Lelah dan jantung berdetak lebih kencang seperti gendering mau perang, akibat tipisnya oksigen di ketinggian 2800Mdpl itu. Ketangguhan tim kembali di uji dengan melewati jalur setapak yang berair mengalir, tak pelak tim perlu memperhatikan tiap langkahnya memastikan pijakannya aman.
Tiba di pos 6 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam adalah waktu yang dirasa maksimal tanpa beban carrier yang sengaja di tinggal di pos 5. Keadaan pos 6 agak terbuka, tidak cukup luas namun landai. Tak tahan oleh dingin di pos 6 membuat tim harus bergegas. Langkah menjadi makin lambat oleh makin turunnya suhu dan seiring derasnya hujan yang sempat membuat tim singgah lebih banyak untuk menarik nafas sejenak. Tiba di pos 7 setelah berjalan selama 1 jam lebih. Jarak memang tak terlalu panjang namun nafas yang mulai terbata-bata menyulitkan tim untuk tiba lebih cepat. Di pos 7 tim mengambil inisiatif untuk makan siang sambil menghangatkan badan. 2 misting nasi dan 2 bungkus mie instan cukup menanbah sedikit energi untuk ke puncak. Tak mau berlama-lama tertusuk dingin, tim menyegerakan langkah menuju pos akhir, puncak Rantemario.
Keadaan di pos 7 sendiri lebih terbuka. Untuk keadaan saat itu, cukup ekstrim jika ingin camp di pos 7 dengan cuaca hujan. Dinginnya suhu menjadi kendala utama, membuat suara terbata-bata untuk berkata.
Perjalanan dilanjutkan menanjaki terjal medan. Kali ini perjalanan terasa begitu panjang dan cukup menbuat tim mulai kehabisan nafas. Namun medan yang sudah agak landai memnjadi bonus tersendiri bagi pendaki. Terlihat panorama alam yang luar biasa sepanjang perjalanan. Danau alami yang terbentuk dan batuan putih mengantar menuju puncak.
Tim tiba di trangulasi dengan tidak cukup beruntung. Keadaan di puncak tertutup kabut serta hujan menambah ekstrimnya suhu mendekati 0o celcius. Setelah mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama, panglima operasi selaku pengambil keputusan memutuskan untuk kembali berhubung suhu dan udara yang semakin menipis tidak memungkinkan untuk tinggal lebih lama. Perjalanan kembali tak semudah yang diperkirakan. Jalur licin kerap kali membuat anggota tim jatuh bangun. Namun semua terbayar oleh rasa puas dan gembira yang tak terbahasakan setelah berdiri di atap Sulawesi.
Setibanya di pos 5, Tim kemudian mengambil langkah taktis untuk segera packing karena masih cukup waktu untuk tiba di kaki gunung dengan resiko jalan malam. Tim mulai bergerak turun pada pukul 14.00 dan tiba di pemukiman warga sekitar pukul 19.00 di kampung Karangan. Keadaan tim yang sudah all-out benar-benar terkuras habis setelah menghabiskan 1 jalur turun dalam sehari dengan keadaan medan yang parah akibat longsor.
Pagi harinya tim pamit kepada tuan rumah dan bertewrimakasih atas tumpangannya serta melanjutkan perjalanan ke rantelemo untuk menunggu mobil yang akan mengantar tim kembali keluar dari kampung. Namun ketangguhan tim kembali diuji. Longsor yang terjadi di beberapa titik pengerasan menyebabkan tak bisanya rantelemo di tembus oleh kendaraan melalui jalan pengerasan. Situasi serba salah ini membuat tim kembali harus menempuh berkilo-kilo meter jauhnya tracking menuju rumah sopir yang akan mengantar tim pendakian kembali ke Makassar. Hingga pukul 18.00 seluruh anggota tim berhasil tiba di rumah pemukiman ramai penduduk tersebut dengan fisik yang sudah kedodoran. Nampak raut wajah bangga dan puas para anggota tim yang telah menyelesaikan pendakian itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar